KISAH HOROR PENJUAL BAKSO KELILING: BORONGAN MAUT DI JALAN BAMBU
BORONGAN MAUT DI JALAN BAMBU
BAB 1 – Pilihan di Persimpangan
Senja itu tidak merah seperti biasanya. Langit justru berwarna kelabu kotor, seperti jelaga yang menyelimuti cakrawala. Pak Paijo berdiri mematung di pinggir jalan desa, tangannya yang kasar dan penuh kapalan memegang erat besi pendorong gerobak baksonya. Ia menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya dengan handuk kecil yang sudah berubah warna menjadi kecokelatan.
"Sepi sekali hari ini," gumamnya lirih.
Suaranya hilang ditelan angin yang berhembus cukup kencang, membawa aroma tanah kering dan sisa pembakaran sampah. Sejak tadi sore, baru tiga mangkuk yang terjual. Padahal, di rumah yang nyaris reyot itu, ada istrinya, Surti, yang sedang menunggu dengan napas yang makin hari makin pendek. Penyakit paru-parunya butuh obat, dan botol sirup bening di atas meja rias mereka sudah kosong sejak kemarin.
Pak Paijo menunduk, menatap roda gerobaknya yang mulai oleng. Ia sampai pada sebuah persimpangan yang selalu ia hindari jika jarum jam sudah melewati angka enam.
Ke arah kanan adalah jalan utama yang memutar jauh, melewati balai desa yang lampu jalannya banyak yang mati. Ke arah kiri adalah jalan setapak sempit yang membelah hutan bambu dan perkebunan pisang milik warga yang sudah lama terbengkalai. Jalan itu adalah jalur pintas menuju bagian belakang desa, tempat beberapa rumah warga berada. Jika lewat sana, ia bisa menghemat waktu tiga puluh menit dan mungkin menemukan pembeli terakhir sebelum pulang.
Namun, orang desa punya sebutan sendiri untuk jalan itu: Lorong Bisikan.
"Jangan lewat belakang, Pak, kalau sudah magrib," suara parau Surti terngiang kembali di telinganya. Istrinya itu memang punya firasat yang tajam, apalagi sejak sakitnya makin parah. "Jalan itu tidak suka dengan suara gaduh. Mereka... mereka lebih suka sunyi."
Pak Paijo menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. Ia melihat laci kayu kecil di gerobaknya. Di sana hanya ada beberapa lembar uang dua ribuan yang kumal—bahkan tidak cukup untuk membeli satu butir pil resep dokter, apalagi menebus obat satu botol penuh.
Ia teringat sorot mata istrinya yang layu, yang mencoba tersenyum meskipun dadanya terasa seperti dihimpit batu besar setiap kali bernapas. Rasa iba dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga akhirnya mengalahkan rasa takut yang mulai merayap di tengkuknya.
"Maafkan Bapak, Surti. Sekali ini saja. Demi obatmu," bisiknya pada kegelapan.
Dengan tarikan napas panjang yang dipaksakan, Pak Paijo memutar arah gerobaknya. Roda kayu itu berderit, memecah keheningan persimpangan, seolah-olah memberikan tanda pada penghuni hutan bambu bahwa ada tamu yang baru saja masuk ke wilayah mereka. Begitu kakinya menginjak tanah lembap jalan setapak itu, cahaya matahari yang tersisa seolah tersedot habis, menyisakan kegelapan yang pekat dan udara yang mendadak menjadi sangat dingin.
BAB 2 – Dingin yang Tak Wajar
Setiap langkah yang diambil Pak Paijo terasa seperti masuk lebih dalam ke perut bumi. Jalan setapak itu menyempit, diapit oleh rumpun-rumpun bambu yang menjulang tinggi hingga ujungnya saling bertautan di atas kepala, membentuk terowongan alami yang menutup sisa cahaya langit. Suara gesekan daun bambu yang tertiup angin terdengar seperti bisikan ribuan orang yang sedang bergunjing. Srek... srek... srek...
"Ting... ting... ting..."
Pak Paijo memukul mangkuknya dengan sendok kayu. Biasanya, bunyi ini terasa akrab dan menenangkan, sebuah undangan ramah bagi perut yang lapar. Namun di sini, di bawah bayang-bayang pohon pisang yang meliuk kaku seperti sosok manusia yang berdiri tegang, suara itu terdengar ganjil. Bunyinya tidak bergema, melainkan langsung lenyap seolah dinding-dinding gaib di kanan-kiri jalan itu menghisap setiap getaran suara yang keluar dari gerobaknya.
"Bakso... bakso panas..." teriaknya.
Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Serak dan kecil. Tidak ada sahutan. Tidak ada suara televisi yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan, atau tawa anak kecil yang biasanya mengejar gerobaknya. Hanya ada kesunyian yang berat—jenis kesunyian yang membuat telinga berdengung.
Tiba-tiba, suhu udara merosot tajam. Pak Paijo bisa merasakan bulu kuduk di lengannya berdiri satu per satu. Hawa dingin itu tidak datang dari angin, melainkan seolah-olah merembes keluar dari celah-celah batang bambu dan pori-pori tanah yang ia injak. Udara yang ia hirup terasa sangat tipis dan membeku, hingga uap putih mulai keluar dari mulutnya setiap kali ia menghela napas.
"Aneh sekali... padahal tadi di persimpangan masih gerah," gumamnya sambil merapatkan kancing kemeja batiknya yang sudah tipis.
Ia mencoba mempercepat langkah. Namun, semakin cepat ia mendorong, gerobak itu terasa semakin berat. Roda kayu yang biasanya licin menggelinding kini seolah-olah melewati lumpur yang pekat, padahal tanah di bawahnya kering kerontang.
Di tengah usahanya mendorong, ia melihat sesuatu dari sudut matanya. Di balik salah satu pohon pisang, ada selembar kain putih yang terjepit di antara pelepah. Pak Paijo terpaku sejenak. Kain itu tidak berkibar ditiup angin; ia menjuntai kaku, kotor oleh bercak tanah merah yang masih basah.
Ia membuang muka, menolak untuk berpikir lebih jauh. Namun, tepat saat itu, bau harum bunga melati yang sangat kuat menusuk hidungnya, hanya untuk berubah dalam hitungan detik menjadi bau amis yang sangat menyengat—seperti bau bangkai tikus yang terperangkap di dalam laci selama berminggu-minggu.
"Hanya perasaan, Jo... hanya perasaan," ia menghibur dirinya sendiri dengan suara gemetar, sementara tangannya yang mulai membiru karena kedinginan tetap memegang erat pegangan gerobak.
BAB 3 – Langkah yang Mengikuti
Pak Paijo berusaha keras memusatkan pikirannya pada wajah istrinya, Surti. Ia membayangkan senyum Surti jika ia pulang membawa sebungkus obat dan sisa uang untuk makan besok. Namun, bayangan indah itu terus terusir oleh suara-suara aneh di sekitarnya.
Tap...
Pak Paijo tersentak. Ia menghentikan dorongan gerobaknya secara mendadak. Sunyi. Ia menahan napas, mencoba menajamkan pendengarannya di tengah desau angin bambu.
"Hanya bunyi ranting jatuh," bisiknya menenangkan diri.
Namun, begitu ia melangkah kembali, bunyi itu muncul lagi.
Tap... tap... tap...
Suara itu datang dari belakang, persis di atas permukaan tanah kering yang baru saja ia lewati. Bunyinya bukan seperti sepatu bot warga desa, melainkan suara kaki telanjang yang menapak berat, seolah kulit telapak kaki itu langsung menghantam tanah tanpa alas.
Pak Paijo mempercepat langkahnya. Napasnya mulai memburu, keluar masuk dengan suara ngik yang pendek. Gerobak baksonya yang tua berderit keras, suaranya memantul di antara batang-batang bambu, menciptakan kebisingan yang membuatnya semakin panik. Namun, secepat apa pun ia berjalan, langkah di belakangnya selalu menjaga jarak yang sama. Konsisten. Tak pernah tertinggal, tapi tak pernah mendahului.
"Siapa di sana?" Pak Paijo memberanikan diri berteriak sambil memutar tubuhnya dengan cepat.
Kosong.
Jalanan di belakangnya hanya berupa lorong gelap yang dihiasi bayangan hitam pepohonan. Cahaya lampu minyak di gerobaknya hanya mampu menjangkau jarak tiga meter, menciptakan lingkaran cahaya yang temaram. Di luar lingkaran itu, kegelapan tampak seperti tembok padat yang menelan segala hal.
"Jangan main-main! Saya hanya mau lewat!" teriaknya lagi, kali ini suaranya pecah dan bergetar.
Hanya keheningan yang menjawab. Namun, saat ia baru saja akan berbalik untuk melanjutkan perjalanan, bau itu muncul lagi. Kali ini tidak hanya sekadar bau bangkai tikus, tapi bau amis darah segar yang bercampur dengan aroma bunga kamboja yang sangat menyengat, seolah-olah bunga-bunga itu baru saja dipetik dari atas sebuah nisan yang masih basah.
Pak Paijo merasa lehernya kaku. Ia merasa ada sesuatu yang sedang menatapnya tepat di tengkuknya. Rasanya panas, seperti ada napas seseorang yang berhembus pelan di balik kerah bajunya, namun udara di sekitarnya sendiri justru terasa sedingin es.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia kembali memegang pegangan gerobak. Ia tidak berani menoleh lagi. Pikirannya mulai kacau. Ia merasa jalan setapak ini menjadi jauh lebih panjang dari yang seharusnya. Pohon-pohon pisang di sisi jalan seolah-olah bergeser, mendekat ke arahnya, daun-daunnya yang terkoyak melambai-lambai seperti jari-jari kurus yang ingin menggapai pundaknya.
Tap... tap... tap...
Langkah kaki itu kembali hadir, sekarang terdengar lebih dari satu pasang. Ada suara gesekan kain di atas tanah, srek... srek..., mengikuti irama langkah kaki telanjang tersebut. Pak Paijo memejamkan matanya sejenak, merapalkan doa-doa pendek yang ia ingat dengan lidah yang mendadak kelu. Ia tahu sekarang, ia tidak lagi sendirian di Lorong Bisikan ini.
BAB 4 – Pembeli Berbaju Kusam
Langkah kaki itu tiba-tiba berhenti, namun keheningan yang menyusul justru terasa lebih mencekam daripada suara pengejaran tadi. Pak Paijo terpaku. Di depannya, tepat di bawah naungan pohon pisang yang meliuk kaku seperti raksasa yang sedang membungkuk, berdirilah sesosok manusia.
"Bakso... satu, Pak."
Suara itu keluar seperti desis uap yang bocor dari panci, tipis namun tajam hingga membuat telinga Pak Paijo berdengung. Sosok itu adalah seorang perempuan. Ia berdiri memunggungi cahaya temaram dari lampu minyak gerobak, sehingga wajahnya tenggelam dalam bayangan hitam yang pekat.
Rambutnya sangat panjang, jauh melampaui pinggang, bahkan ujung-ujungnya menjuntai hingga menyentuh tanah yang kotor. Rambut itu tampak kusam, kusut, dan penuh dengan serpihan daun kering. Ia mengenakan gaun putih panjang yang seharusnya terlihat anggun, namun kainnya telah berubah menjadi warna putih tulang yang dekil, penuh dengan bercak kecokelatan yang tampak seperti noda tanah makam yang sudah mengering.
"Eh... i-iya, Neng..." suara Pak Paijo tercekat di kerongkongan.
Logika di kepalanya berteriak agar ia segera lari, namun tangannya seolah dipandu oleh kekuatan yang tak terlihat. Secara otomatis, ia membuka tutup panci baksonya. Wush! Uap putih mengepul keluar, namun anehnya, uap itu tidak membawa aroma kaldu sapi yang gurih. Uap itu berbau hambar, dingin, dan sedikit berbau tembaga—seperti bau karat.
Dengan jari-jari yang gemetar hebat hingga sendok kayunya beradu dengan pinggiran mangkuk (klentang... klentang...), Pak Paijo mulai meracik. Ia mengambil mie, menuangkan sedikit kuah, dan memasukkan beberapa butir bakso.
"Makan di sini... atau dibungkus, Neng?" tanya Pak Paijo tanpa berani mengangkat wajahnya. Ia hanya menatap jempol kakinya sendiri yang berkeringat di dalam sandal jepit.
Tidak ada jawaban verbal. Perempuan itu hanya menggerakkan tangannya—tangan yang sangat kurus dengan kulit yang tampak pucat kebiruan. Ia menunjuk ke arah akar pohon pisang di sampingnya.
Pak Paijo berjalan mendekat dengan kaki yang terasa seperti dipenuhi timah. Setiap inchi jarak yang ia pangkas membuat suhu udara terasa semakin beku. Saat ia tinggal satu langkah dari perempuan itu, ia bisa melihat bahwa gaun putih itu tidak benar-benar menyentuh kulitnya; pakaian itu seolah-olah melekat pada tubuh yang sangat rapuh.
Perempuan itu sedikit memiringkan kepalanya. Gerakan itu diikuti oleh suara krek yang keras, seolah tulang lehernya sudah lama tidak digerakkan atau mungkin sudah patah. Pak Paijo meletakkan mangkuk itu dengan tangan yang bergetar hebat.
Saat itulah, ia melihat wajahnya dari balik tirai rambut yang tersingkap sedikit.
Bukan wajah manusia yang menyambutnya, melainkan kulit pucat yang mengerut seperti kertas yang diremas, dengan kelopak mata yang hitam legam tanpa ada bagian putih sedikit pun. Perempuan itu tidak berkedip. Ia hanya menatap mangkuk bakso itu dengan tatapan kosong yang haus, sementara dari sela-sela rambutnya, mulai tercium bau kamboja yang mendadak berubah menjadi sangat busuk—bau daging yang dibiarkan membusuk di dalam ruang tertutup selama berminggu-minggu.
"Terima kasih... Pak..." bisik perempuan itu.
Suara itu tidak berasal dari mulutnya, melainkan seolah-olah bergema dari dalam tanah yang mereka pijak. Pak Paijo mundur perlahan, nyaris jatuh tersandung akar pohon, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan pecah.
BAB 5 – Sentuhan Es
Pak Paijo berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Ia ingin segera kembali ke gerobak, memutar arah, dan lari sekencang mungkin tanpa peduli lagi pada obat istrinya. Namun, kaki-kakinya seolah terpaku ke bumi.
Perempuan itu perlahan mengulurkan tangannya untuk mengambil mangkuk dari atas akar pohon. Saat itulah, jari-jari Pak Paijo yang masih memegang pinggiran mangkuk secara tak sengaja bersentuhan dengan ujung jari perempuan tersebut.
Deg.
Jantung Pak Paijo seolah berhenti berdetak sesaat. Sentuhan itu tidak terasa seperti menyentuh kulit manusia. Rasanya kaku, licin, dan sangat beku—lebih dingin dari sebongkah es yang baru dikeluarkan dari gudang. Tidak ada denyut nadi, tidak ada kehangatan darah. Kulit perempuan itu terasa seperti tekstur daging ayam mentah yang sudah membeku berhari-hari; mati dan tak bernyawa.
"Astagfirullah..." batin Pak Paijo menjerit, namun mulutnya hanya mampu mengeluarkan desisan pelan.
Perempuan itu tidak segera menarik tangannya. Ia membiarkan jari-jarinya yang pucat kebiruan bersandar sejenak di atas jempol Pak Paijo. Kuku-kukunya hitam dan panjang, tampak rapuh seolah bisa patah kapan saja. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip tertiup angin, Pak Paijo melihat sesuatu yang membuatnya nyaris pingsan: di sela-sela kuku perempuan itu, terselip butiran tanah merah yang masih segar, persis seperti tanah pemakaman yang baru saja digali.
"Baksonya... enak, Pak?" bisik perempuan itu lagi.
Suaranya kini tidak lagi sekadar desisan. Suara itu terdengar berlapis-lapis, seolah-olah ada suara perempuan muda, suara nenek tua, dan suara tangisan bayi yang menyatu dalam satu kalimat yang sama. Suara itu bergetar di dalam kepala Pak Paijo, membuat pandangannya sedikit kabur.
Dengan kekuatan terakhir yang ia miliki, Pak Paijo menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia mundur terhuyung-huyung hingga punggungnya membentur pinggiran gerobak.
Anehnya, perempuan itu tidak marah. Ia tetap dalam posisi miringnya yang tidak wajar, memegang mangkuk bakso itu dengan kedua tangannya yang kaku. Ia tidak menyendok baksonya. Ia hanya mendekatkan mangkuk itu ke wajahnya yang tertutup rambut, lalu menghirup uapnya dalam-dalam.
Pak Paijo melihat dengan ngeri saat uap bakso yang keluar dari mangkuk tidak naik ke atas, melainkan tersedot masuk ke balik tirai rambut hitam itu. Hanya dalam hitungan detik, bakso yang tadi panas mengepul itu berubah menjadi dingin dan pucat, seolah seluruh "sarinya" telah dihisap habis.
"Teman-teman saya juga mau..."
Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, namun efeknya seperti petir di telinga Pak Paijo. Dari balik kegelapan hutan bambu di belakang perempuan itu, terdengar suara gesekan kain yang ramai. Srek... srek... srek...
Bukan hanya satu. Pak Paijo melihat bayangan-bayangan putih mulai muncul dari balik batang-batang bambu yang gelap. Mereka muncul perlahan, seolah-olah terlahir dari kabut yang mendadak menebal di jalan setapak itu.
"Satu mangkuk tidak cukup, Pak..." bisik perempuan itu lagi, kini sambil mengangkat wajahnya sedikit lebih tinggi, memperlihatkan lubang hitam di tempat yang seharusnya menjadi mata. "Kami semua... lapar."
Pak Paijo menyadari satu hal yang lebih mengerikan: bau bunga kamboja yang tadi menyengat kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh bau anyir darah yang begitu pekat hingga ia merasa bisa merasakannya di ujung lidahnya.
BAB 6 – Pesta di Kegelapan
Dunia di sekitar Pak Paijo mendadak menyempit. Kabut yang muncul bukan lagi kabut putih yang tipis, melainkan uap kelabu yang berbau lembap dan purba. Dari balik rimbunnya batang bambu yang saling bergesekan, satu per satu sosok itu menampakkan diri.
Mereka tidak berjalan layaknya manusia yang melangkah. Mereka seolah-olah "terbit" dari kegelapan, muncul secara bertahap seperti bayangan yang mengental menjadi nyata. Ada yang keluar dari celah pohon pisang, ada yang turun perlahan dari dahan bambu yang melengkung rendah, dan ada yang tiba-tiba sudah berdiri di tengah jalan seolah-olah mereka memang sudah di sana sejak tadi, hanya menunggu waktu untuk terlihat.
Semuanya mengenakan kain putih yang sama kusamnya. Semua memiliki rambut hitam panjang yang kusut dan menjuntai kaku. Dan yang paling mengerikan, semuanya berdiri dalam posisi yang tidak alami—ada yang kepalanya miring ke kiri hingga telinganya menyentuh bahu, ada yang tubuhnya membungkuk sangat rendah hingga tangannya hampir menyentuh tanah, dan ada yang berdiri sangat tegak hingga terlihat seperti tiang pemakaman yang baru ditancapkan.
"Bakso... Pak..."
Suara itu menyahut dari segala arah. Bukan suara yang bersahut-sahutan, melainkan sebuah harmoni bisikan yang tumpang tindih, menciptakan dengungan di dalam kepala Pak Paijo yang membuatnya merasa mual.
"I-iya... sebentar... sabar..." tangan Pak Paijo bergerak di luar kendalinya.
Ia seperti robot yang diprogram. Tangannya menyambar mangkuk-mangkuk yang tersisa dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tangannya yang gemetar kini justru bergerak sangat presisi namun kaku. Ia meracik bakso dengan mata yang melotot ketakutan, menatap satu per satu sosok yang mulai membentuk antrean melingkar, mengurung gerobaknya di tengah jalan sempit itu.
Setiap kali Pak Paijo menyerahkan mangkuk, skenario yang sama terulang: jari-jari beku yang licin bersentuhan dengan kulitnya, bau bangkai yang menusuk, dan tatapan dari lubang mata yang kosong.
Jalan setapak itu kini berubah menjadi pasar bagi kaum yang sudah tidak bernapas. Tidak ada suara denting sendok atau obrolan pelanggan yang biasanya ia dengar di depan balai desa. Yang ada hanyalah suara hisapan napas yang berat dan dalam—suara para sosok itu menghirup uap panas dari mangkuk masing-masing.
Pak Paijo melihat dengan ngeri bagaimana puluhan sosok itu memegang mangkuk dengan kedua tangan, lalu menundukkan kepala serentak. Mereka tidak mengunyah. Mereka hanya menghisap "kehidupan" dari uap makanan itu hingga kuah yang tadinya bening berminyak berubah menjadi cairan keruh yang berbau busuk.
"Kurang, Pak... masih kurang..." bisik salah satu sosok yang berdiri paling dekat, yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari tutup panci.
Lampu minyak di gerobak mulai berkedip-kedip tidak stabil, seolah kehabisan napas karena dikelilingi oleh begitu banyak energi dingin. Dalam setiap kedipan lampu, Pak Paijo melihat pemandangan yang berubah-ubah: satu detik ia melihat perempuan berbaju putih, detik berikutnya ia melihat sosok-sosok itu dengan wajah yang hancur, kulit yang mengelupas, dan ulat-ulat kecil yang jatuh dari sela rambut mereka ke atas gerobaknya.
Ia ingin menjerit, namun suaranya terkunci di pangkal tenggorokan. Ia hanya bisa terus menyendok, dan menyendok, sementara laci uangnya yang tadi kosong kini mulai terisi—bukan dengan koin atau kertas, melainkan dengan benda-benda kecil yang jatuh berkerincing dengan suara yang ganjil.
Pak Paijo tahu, baksonya hampir habis, tapi "pelanggan" di depannya justru tampak semakin banyak, seolah-olah seluruh penghuni Lorong Bisikan telah berkumpul untuk merayakan borongan maut malam itu.
BAB 7 – Penghuni Panci
"Habis... sudah habis... tidak ada lagi," bisik Pak Paijo dengan suara yang nyaris hilang.
Tangannya yang memegang sendok besar gemetar hebat hingga benda logam itu jatuh ke tanah dengan bunyi dentang yang memilukan. Ia menatap ke dalam panci besarnya. Cairan kuah yang tadinya penuh kini hanya menyisakan kerak lemak yang membeku di dasar, padahal api di bawah panci masih menyala biru. Bakso-baksonya—puluhan butir yang ia siapkan dengan harapan bisa mengobati istrinya—telah lenyap tak bersisa.
Sekelilingnya mendadak menjadi sangat sunyi. Puluhan sosok berbaju kusam itu berhenti menghisap uap. Mereka semua serentak mengangkat kepala, menatap ke arah Pak Paijo dengan posisi leher yang kaku. Lingkaran putih di tengah hutan bambu itu merapat. Pak Paijo bisa merasakan dingin yang menyengat dari pakaian mereka yang lembap menyentuh sisi-sisi gerobaknya.
Kik... kik... kik...
Suara tawa kecil mulai terdengar. Bukan tawa yang menyenangkan, melainkan suara melengking yang keluar dari tenggorokan yang seolah-olah penuh dengan cairan. Tawa itu menular dari satu sosok ke sosok lain, hingga jalan setapak itu dipenuhi oleh simfoni tawa yang memecah kewarasan.
"Kami... belum kenyang, Pak..."
Pak Paijo mundur, namun punggungnya tertahan oleh tumpukan bambu yang terasa seperti jari-jari raksasa yang mencengkeram bajunya. Ia berusaha mencari perlindungan di balik gerobaknya sendiri, satu-satunya benda yang masih terasa nyata di dunia yang gila ini.
Tiba-tiba, gerobak itu berguncang hebat. Dug! Dug! Dug!
Suara itu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam panci bakso yang tertutup rapat. Sesuatu yang besar dan kuat sedang menendang atau memukul dinding panci dari dalam. Pak Paijo terperangah. Panci itu seharusnya kosong. Ia sendiri yang menghabiskan isinya beberapa detik yang lalu.
Srek... srek...
Suara garukan kuku di atas logam terdengar memilukan telinga. Pak Paijo, entah karena dorongan rasa ingin tahu yang nekat atau karena hipnotis gaib yang menyelimuti tempat itu, mengulurkan tangannya yang kaku. Dengan ujung jari yang membiru, ia membuka tutup panci besar itu perlahan.
Wush!
Aroma kamboja busuk meledak keluar dari dalam panci, jauh lebih kuat dari sebelumnya hingga membuat Pak Paijo terbatuk dan matanya berair. Di dalam panci yang seharusnya kosong itu, tidak ada kuah, tidak ada daging. Yang ada hanyalah gumpalan rambut hitam yang basah dan berminyak.
Rambut itu tampak hidup. Ia bergerak-gerak seperti cacing yang menggeliat, perlahan-lahan meluap keluar dari bibir panci, merayap jatuh ke papan kayu gerobak, dan terus memanjang seolah tidak ada ujungnya. Di tengah tumpukan rambut yang menjijikkan itu, dua buah tangan kecil dengan kulit yang mengelupas muncul dan mencengkeram pinggiran panci.
"Pak... baksonya kurang satu..."
Sebuah kepala muncul dari dasar panci. Wajahnya tidak memiliki hidung maupun bibir, hanya ada lubang menganga yang dipenuhi oleh gigi-gigi hitam yang runcing. Dan yang membuat jantung Pak Paijo seolah copot adalah mata sosok itu—mata yang persis seperti mata istrinya, Surti, namun tanpa ada cahaya kehidupan di dalamnya.
"Bapak... aku lapar..." sosok itu merangkak keluar dari panci, tubuhnya yang mungil namun bungkuk tertutup oleh rambut panjang yang terus tumbuh menyelimuti gerobak.
Pak Paijo menjerit, namun suaranya hanya berakhir menjadi sisa napas yang kering. Ia menyadari satu hal yang paling mengerikan: sosok-sosok putih yang mengelilinginya kini mulai melangkah maju secara bersamaan, tangan-tangan mereka yang beku terulur ke arahnya, sementara laci uangnya terbuka sendiri, memuntahkan tumpukan kuku manusia dan helai rambut berdarah yang tadi ia kira sebagai bayaran.
BAB 8 – Yang Tersisa di Pagi Hari
Kabut tebal yang menyelimuti Lorong Bisikan baru perlahan memudar saat cahaya matahari yang pucat mulai menyelinap di antara celah-celah rumpun bambu. Burung-burung hutan tidak berkicau; mereka seolah-olah terbang menjauh dari area yang kini berbau anyir dan busuk tersebut.
Warga desa, dipimpin oleh Pak RT, masuk ke jalan setapak itu dengan membawa parang dan obor yang hampir mati. Kecemasan mereka sudah mencapai puncaknya sejak Surti, istri Pak Paijo, ditemukan meninggal dunia di rumahnya tepat pada tengah malam—tepat saat suara tawa melengking terdengar menggema dari arah hutan bambu.
"Itu gerobaknya!" teriak salah satu warga sambil menunjuk ke tengah jalan.
Gerobak bakso Pak Paijo berdiri tegak, namun kondisinya sungguh mengerikan. Seluruh permukaannya, mulai dari papan kayu hingga roda-rodanya, ditutupi oleh lendir hitam yang pekat dan lengket, seolah-olah gerobak itu baru saja ditarik keluar dari dalam perut rawa yang purba. Bau kamboja busuk masih tertinggal di udara, menyesakkan dada siapa pun yang mendekat.
Pak RT memberanikan diri mendekat. Ia melihat laci uang gerobak itu sedikit terbuka. Bukannya lembaran rupiah yang ia temukan, melainkan tumpukan potongan kuku manusia yang masih kotor dan gulungan rambut hitam panjang yang berlumuran darah segar. Di antara tumpukan itu, terselip beberapa keping gigi manusia yang tampak baru saja dicabut paksa.
"Mana Pak Paijo?" bisik warga lainnya dengan wajah pucat pasi.
Panci besar di atas gerobak itu tertutup rapat. Sesuatu di dalamnya terasa berat saat Pak RT mencoba menggoyangkannya. Dengan tangan gemetar, ia menggunakan ujung parangnya untuk menyingkap tutup panci tersebut.
Srak!
Tutup panci terjatuh ke tanah. Tidak ada mayat di dalamnya. Panci itu benar-benar bersih dari kuah, namun di dasarnya terdapat sebuah pemandangan yang membuat beberapa warga langsung muntah di tempat. Di sana, di tengah sisa-sisa lendir hitam, tergeletak sebuah kancing baju batik—kancing yang persis sama dengan yang dipakai Pak Paijo malam itu—terendam dalam cairan merah pekat yang masih hangat.
Di samping kancing itu, terdapat satu mangkuk bakso yang masih utuh. Namun, isinya bukan daging, melainkan gumpalan rambut yang terikat rapi membentuk bulatan sempurna, menyerupai butiran bakso.
Pak Paijo tidak pernah ditemukan. Tidak ada jejak kaki yang keluar dari hutan bambu itu, dan tidak ada sisa-sisa pakaian lainnya. Ia seolah-olah telah diserap habis oleh kegelapan jalan tersebut, menjadi bagian dari "dagangan" yang ia tawarkan sendiri.
Hingga bertahun-tahun kemudian, jalan belakang desa itu ditutup permanen dengan pagar kawat berduri. Namun, warga yang rumahnya berbatasan dengan hutan bambu seringkali terbangun di tengah malam yang sunyi. Mereka bersumpah mendengar suara ting... ting... ting... dari kejauhan, diikuti oleh suara parau yang sangat mirip dengan suara Pak Paijo, yang memanggil-manggil nama istrinya di antara suara tawa perempuan yang melengking.
"Baksooo... bakso panas..."
Dan jika kau cukup malang untuk mendengarnya, jangan pernah menoleh. Karena katanya, di dalam panci gerobak gaib itu, kini ada "bakso" baru yang terbuat dari jempol manusia yang masih berdenyut.
-- TAMAT --
Buat teman-teman pembaca yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya.. Buat teman teman lainnya yang mau ikut mensupport dipersilahkan juga.. 😁🙏
#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri

Komentar
Posting Komentar