Cerita Horor #25 AKU BELUM TURUN πŸ‘€



AKU BELUM TURUN

Bab 1: Boncengan yang Kosong

Langit malam gelap pekat tanpa bintang. Rian melirik jam di ponselnya—sudah hampir pukul sebelas malam. Ia menyalakan motor dan mengarahkan lampu ke jalanan sunyi di depan mereka.

"Yakin mau lewat sini?" tanya Vina, merapatkan jaketnya.

"Tenang aja. Ini jalan pintas, lebih cepat sampai," jawab Rian.

Jalan alternatif itu memang terkenal sepi dan jarang dilewati orang, terutama di malam hari. Konon, banyak kejadian aneh terjadi di sini. Beberapa pengendara mengaku pernah melihat bayangan menyeberang tiba-tiba, suara langkah kaki tanpa wujud, bahkan ada yang bilang pernah membonceng "seseorang" tanpa sadar.

Rian, tentu saja, menganggap semua itu hanya cerita kosong. Baginya, ketakutan hanya ada di dalam pikiran.

Sepanjang perjalanan, Vina lebih banyak diam. Tangan kecilnya melingkar di pinggang Rian, tapi genggamannya terasa lebih erat dari biasanya. Sesekali, ia menoleh ke belakang, seperti merasa ada sesuatu yang mengikuti mereka.

“Ada apa sih?” tanya Rian tanpa menoleh.

Vina tidak langsung menjawab. "Kamu nggak dengar apa-apa?"

Rian memasang telinga. Hanya suara mesin motor dan deru angin malam. Tidak ada suara lain.

“Nggak, kenapa?”

Vina menggigit bibirnya, ragu untuk bicara. "Nggak apa-apa..." jawabnya akhirnya.

Mereka terus melaju melewati deretan pepohonan rindang di sisi jalan. Daun-daun bergoyang ditiup angin malam, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang menari di aspal. Rian mencoba mengabaikannya, tapi ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Semakin jauh mereka melaju, suasana semakin mencekam. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan suara jangkrik yang tadi ramai mendadak menghilang. Keheningan total menyelimuti jalanan.

Vina menggenggam Rian lebih erat.

“Rian…” suaranya terdengar pelan, nyaris berbisik.

"Apa?"

"Aku merasa ada yang ikut..."

Rian tertawa kecil, meski ada sedikit ketegangan dalam suaranya. "Ya iyalah, kamu kan di belakangku."

"Bukan itu," balas Vina cepat. "Rasanya... kayak ada yang duduk di belakangku juga."

Jantung Rian berdetak lebih cepat, tapi ia berusaha tetap tenang. “Udahlah, Vin. Jangan aneh-aneh.”

Tapi saat ia melirik spion, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.

Di pantulan kaca, ia bisa melihat bayangan samar di belakang Vina. Bukan hanya dua kepala, tapi tiga.

Ia menoleh ke belakang dengan cepat. Kosong. Hanya Vina yang duduk di boncengan.

"Kenapa?" tanya Vina, suaranya penuh ketakutan.

Rian menggeleng, berusaha tersenyum. "Nggak, nggak apa-apa."

Ia memacu motornya lebih cepat, berharap segera sampai di rumah Vina. Namun, perasaan aneh itu tidak hilang. Ia merasa… ada sesuatu yang ikut bersama mereka.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Vina. Rian berhenti dan menghela napas lega.

"Udah sampai," katanya sambil menunggu Vina turun.

Tidak ada jawaban.

Ia menoleh ke belakang… dan dadanya langsung terasa sesak.

Boncengan motornya kosong.

Tidak ada siapa pun di sana.

Vina menghilang.

Bab 2: Siapa yang Aku Antar Pulang?

Rian terpaku di tempatnya. Boncengan itu kosong.

Tulang punggungnya terasa membeku, sementara bulu kuduknya berdiri satu per satu. Napasnya memburu. Tadi, saat mulai perjalanan, Vina ada di belakangnya. Ia bahkan bisa merasakan genggaman tangan gadis itu di pinggangnya.

Tapi sekarang? Hilang begitu saja?

Ia buru-buru merogoh ponsel dari saku jaketnya. Jemarinya gemetar saat ia membuka aplikasi chat dan mengetik pesan untuk Vina.

"Vin, kamu di mana?!"

Belum ada jawaban.

Matanya menatap ke sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan kejadian aneh ini. Jalanan di depan rumah Vina masih sunyi. Lampu teras rumahnya menyala, tetapi pintunya tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda kalau Vina baru saja masuk.

Rian menelan ludah, lalu mencoba menenangkan diri. Mungkin dia turun tanpa aku sadar? Mungkin dia buru-buru masuk rumah tanpa pamit?

Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya—ia tidak pernah berhenti di mana pun sejak meninggalkan jalan angker tadi.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Pesan dari Vina masuk.

"Kamu di mana? Aku dari tadi nunggu di pinggir jalan, kamu malah ninggalin aku!"

Rian membelalakkan mata.

Apa?

Tangannya langsung dingin. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa di dadanya.

Ia membaca ulang pesan itu, berharap ia hanya salah lihat. Namun, pesannya tetap sama.

Vina masih menunggu di pinggir jalan?

Lalu… siapa yang tadi ia bonceng sampai ke rumah?

Sebuah pemikiran mengerikan tiba-tiba muncul di kepalanya. Sejak tadi, saat ia melihat ke spion dan melihat tiga kepala, ia tidak berani bertanya lebih jauh ke Vina. Ia pikir itu hanya refleksi cahaya… Tapi bagaimana kalau bukan?

Bagaimana kalau sesuatu sudah naik ke motornya sejak awal?

Rian buru-buru menyalakan motornya dan berbalik arah. Malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam setang, tetapi ia memaksa dirinya untuk fokus.

Sepanjang perjalanan kembali ke tempat ia meninggalkan Vina, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Mungkinkah Vina hanya bercanda? Tidak, ini bukan gayanya.

Mungkinkah ini hanya salah paham? Tapi bagaimana bisa? Aku benar-benar merasa ada yang duduk di belakangku… Aku bahkan mendengar suara Vina berbicara!

Rian menelan ludah dan mencoba mengusir pikiran buruknya.

Namun, semakin jauh ia berkendara, semakin ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya.

Pohon-pohon di tepi jalan tampak lebih gelap. Angin dingin berhembus lebih kencang.

Lalu, di kejauhan, ia melihat seseorang berdiri di pinggir jalan.

Vina.

Rian menghela napas lega sekaligus merasa merinding. Lampu motor menyorot wajah gadis itu yang terlihat tegang. Ia berdiri di bawah pohon besar, matanya gelisah saat melihat Rian datang.

Rian langsung menghentikan motornya dan dengan cepat turun.

"Vina!" panggilnya. "Kamu kenapa di sini?! Aku tadi udah antar kamu sampai rumah!"

Vina menggeleng, wajahnya pucat. "Aku dari tadi di sini Rian… Aku nunggu kamu, tapi kamu malah pergi ninggalin aku!"

Rian merasakan perutnya mencelos.

Vina benar-benar tidak bersamanya tadi? Lalu… siapa yang tadi ia antar pulang?

"Aku tadi beneran ngerasa kamu di belakangku Vin," katanya dengan suara gemetar. "Aku bahkan dengar suara kamu!"

Vina mundur selangkah, matanya melebar. "Kamu dengar suara aku?"

Rian mengangguk.

Vina terdiam beberapa detik, lalu dengan suara pelan, ia berkata, "Aku nggak bicara satu kata pun selama nunggu di sini Rian…"

Darah Rian langsung membeku.

Jika Vina tidak pernah berbicara, lalu suara siapa yang tadi ia dengar sepanjang perjalanan?

Udara terasa semakin dingin. Malam seakan menjadi lebih sunyi. Angin berhembus kencang, menggoyangkan ranting-ranting pohon di sekitar mereka.

Lalu… sesuatu menarik perhatian Rian.

Di sisi jalan, tepat di tempat ia pertama kali menjemput Vina tadi, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Sebuah jejak kaki.

Tapi bukan jejak biasa.

Jejak itu berwarna hitam pekat, seperti terbakar di atas aspal. Jejak itu tidak berujung, seolah sosok yang meninggalkannya tidak memiliki bentuk fisik.

Rian merasa napasnya tercekat.

Ia berbalik ke arah Vina yang juga menatap jejak itu dengan wajah ketakutan.

"Ayo kita pergi dari sini," kata Vina pelan. "Aku nggak mau ada di sini lebih lama…"

Rian mengangguk cepat. Mereka berdua segera naik ke motor dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

Namun, saat motor mulai melaju, Rian kembali merasakan sesuatu yang aneh.

Motornya terasa lebih berat. Seakan… ada yang ikut naik bersama mereka.

Dengan hati-hati, ia melirik spion.

Dan jantungnya hampir berhenti berdetak.

Ada wajah hitam legam di belakangnya. Menyeringai.

Dan sebuah suara berbisik di telinganya…

"Aku belum turun…"

Bab 3: Aku Belum Turun

Rian hampir kehilangan kendali atas motornya saat mendengar suara itu.

"Aku belum turun…"

Suara yang berat, serak, dan dingin. Suara yang bukan milik Vina.

Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tangannya mencengkeram setang motor lebih erat, tapi tubuhnya terasa kaku. Perlahan, dengan napas tertahan, ia melirik spion.

Dan saat itu juga, darahnya membeku.

Di balik punggung Vina, di tempat yang seharusnya kosong, ada wajah hitam legam dengan senyum lebar yang tidak wajar. Matanya kosong, hanya dua lubang hitam menganga, seolah bisa menyedot jiwa siapa pun yang menatapnya.

Wajah itu menatap langsung ke arah Rian melalui spion.

Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Refleks, ia mengalihkan pandangannya dari spion, menatap lurus ke depan. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak boleh berhenti sekarang.

Motor terus melaju, tapi Rian merasakan sesuatu yang aneh. Motornya terasa semakin berat, seolah ada banyak beban tambahan di belakangnya. Seakan yang menumpang bukan hanya satu…

Pelan-pelan, ia mengerahkan keberanian untuk melirik ke kaca spion lagi.

Dan kali ini, bukan hanya satu wajah hitam yang menyeringai di belakangnya.

Ada banyak.

Lima… enam… tujuh… wajah hitam mengerikan dengan ekspresi tersenyum lebar, seakan sedang menikmati perjalanan mereka.

Beberapa wajah itu bertumpuk di atas satu sama lain, seperti tumpukan mayat yang saling bergelantungan. Ada yang kepalanya terbalik, ada yang lehernya bengkok tidak wajar, bahkan ada yang wajahnya seakan meleleh dengan cairan hitam pekat menetes dari mata dan mulutnya.

Rian hampir saja menjerit.

Ia mengalihkan pandangan dari spion dengan cepat, jantungnya berdetak liar.

"Jangan lihat… Jangan lihat… Jangan lihat…"

Ia menggigit bibirnya, menahan diri agar tidak menoleh ke belakang.

Karena ia tahu, jika ia menoleh… mereka mungkin akan menariknya ikut bersama mereka.

Namun, Vina, yang sejak tadi diam, tiba-tiba menggigil dan berbisik, "Rian… Aku merasa aneh…"

Suaranya terdengar panik. Ia mulai merapatkan tubuhnya ke punggung Rian, tangannya mencengkeram jaket Rian dengan erat.

"Apa yang kamu rasain?" tanya Rian dengan suara bergetar, meski ia sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Vina menggeleng, tetapi tubuhnya semakin bergetar. "Aku… Aku merasa ada yang duduk di belakangku Rian… Ada yang bernapas di leherku…"

Rian langsung merinding. Ia juga merasakan hal yang sama.

Ia menginjak gas lebih dalam, mencoba mempercepat laju motor. Jalanan di depan mereka masih panjang, masih jauh dari permukiman. Ia hanya harus fokus… hanya harus membawa mereka keluar dari sini…

Tapi…

Seseorang tertawa pelan di telinganya.

"Mau ke mana?"

Suara itu… persis di belakangnya.

Saat itu juga, Vina menjerit.

"APA ITU?!!"

Refleks, meski ia tahu ia tidak boleh menoleh, Rian tetap melirik spion.

Dan kali ini, mereka tidak hanya duduk diam.

Sosok-sosok hitam itu bergerak.

Salah satu dari mereka perlahan mengulurkan tangannya ke arah Rian.

Jari-jari panjang, kurus, dan menghitam seperti terbakar itu melayang mendekati bahunya.

Rian berusaha untuk tidak panik, tapi semakin lama, tangan itu semakin dekat.

"VIN, PEGANG ERAT!!"

Tanpa pikir panjang, Rian mengerem mendadak!

Motor terguncang keras. Ban berdecit melawan aspal. Vina hampir terpelanting ke depan, tetapi ia berpegangan erat pada Rian.

Dan sesuatu yang dingin seperti kabut hitam menyentuh tengkuk Rian.

Tapi saat motor berhenti… suasana berubah.

Jalanan yang tadi sunyi kini terasa lebih sepi dari biasanya. Angin berhenti berhembus. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara binatang malam.

Seolah mereka berada di ruang kosong… tanpa kehidupan.

Rian menelan ludah. Perlahan, ia melirik spion.

Kosong.

Tidak ada sosok hitam itu lagi. Tidak ada wajah-wajah yang tersenyum menyeramkan.

Hanya dia dan Vina.

Tapi…

Kenapa punggungnya masih terasa berat?

Kenapa ia masih merasa ada sesuatu di belakangnya?

Vina menggenggam lengannya, tangannya dingin seperti es. "Rian… Aku nggak mau di sini…"

Rian mengangguk cepat. Tanpa membuang waktu, ia segera menarik gas dan melaju sekencang mungkin.

Kali ini, ia tidak peduli lagi apakah ada yang ikut di belakangnya. Ia hanya ingin keluar dari jalan ini.

Secepat mungkin.

 

Mereka akhirnya sampai di area pemukiman. Lampu-lampu rumah mulai terlihat di kejauhan. Ada rasa lega yang perlahan menyelimuti mereka, meskipun ketakutan masih tersisa di hati.

Mereka tidak berbicara satu sama lain. Tidak berani.

Begitu tiba di depan rumah Vina, Rian berhenti dan menunggu gadis itu turun.

Vina membuka helmnya, wajahnya masih pucat. Ia menghela napas panjang, lalu turun dengan langkah gemetar.

Rian menatapnya. "Vin… Kamu nggak apa-apa?"

Vina mengangguk, meski matanya masih menyiratkan ketakutan. "Aku… Aku cuma pengen cepat masuk rumah."

Rian tersenyum tipis. "Oke, besok kita bicara soal ini ya."

Vina mengangguk lagi, lalu bergegas masuk ke rumah.

Rian menghela napas lega. Akhirnya selesai.

Ia mengusap wajahnya, lalu melihat ke kaca spion untuk memastikan semuanya benar-benar sudah berakhir.

Dan saat itu juga, wajahnya langsung pucat pasi.

Boncengan motornya masih tidak kosong.

Ada bekas cekungan di jok motor.

Seolah sesuatu masih duduk di sana.

Dan dalam heningnya malam, terdengar bisikan pelan…

"Aku belum turun…"

Bab 4: Jangan Menoleh

Rian menahan napas.

Matanya masih terpaku pada kaca spion. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi. Bahwa mungkin ia terlalu lelah. Bahwa rasa takutnya sejak tadi hanya membuat pikirannya berhalusinasi.

Tapi…

Cekungan di jok motor itu masih ada.

Dan semakin dalam.

Seolah sesuatu yang tak terlihat baru saja bergeser sedikit.

Dari dalam rumah, lampu di kamar Vina menyala, menandakan bahwa gadis itu sudah aman di dalam. Tetapi Rian belum bisa pergi.

Seseorang masih bersamanya.

Dalam kepanikan yang semakin menyesakkan dada, ia mencoba mengatur napas. Ia tidak boleh panik. Tidak boleh sembarangan bergerak.

Jangan menoleh.

Jangan melihat ke belakang.

Ia menggenggam setang motornya dengan erat. Jika ia tetap diam, apa yang akan terjadi? Apakah sosok itu akan tetap duduk di sana… menunggu… menunggunya menoleh?

Bibirnya terasa kering. Tubuhnya kaku.

Dan kemudian, sesuatu menyentuh bahunya.

Lembut.

Dingin.

Seperti jemari yang rapuh.

Rian nyaris melompat dari motornya. Kakinya melemas, tapi ia segera menarik napas dalam-dalam. Ia harus pergi. Sekarang juga.

Dengan tangan gemetar, ia meraih gas dan menariknya sekuat mungkin.

Motor melaju dengan kecepatan tinggi, memecah kesunyian malam. Angin menerpa wajahnya, tetapi rasa dingin aneh yang menempel di bahunya tidak menghilang.

Seolah sesuatu masih menempel di sana… masih duduk di belakangnya…

Dan kemudian, telinganya menangkap suara napas.

Dekat sekali.

Persis di belakang telinganya.

Seseorang sedang bernapas di tengkuknya.

Perlahan, dengan suara lirih dan menyeramkan, suara itu berbisik,

“Kenapa buru-buru?”

Rian menjerit!

Refleks, tangannya hampir terlepas dari setang motor. Ia nyaris kehilangan kendali, tapi untungnya ia bisa segera menguasai diri.

Ia tidak boleh berhenti!

Ia tidak boleh menoleh!

Jangan menoleh.

Jangan menoleh.

Ia mencoba memfokuskan pandangannya ke depan, tapi sudut matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya semakin membeku.

Bayangan hitam.

Bayangan itu… memeluknya dari belakang.

Bukan hanya sekadar duduk.

Sosok itu menempel erat di punggungnya.

Perlahan, sesuatu yang dingin menjalar ke lehernya. Dua tangan kurus dengan jari-jari panjang… mulai merayap ke bahunya.

Dan dalam bisikan yang semakin jelas, suara itu berkata,

“Aku sudah bilang… Aku belum turun…”

BRAK!!

Rian menabrak sesuatu!

Tubuhnya terpental ke jalanan. Motornya terguling beberapa meter ke depan.

Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya, tetapi yang membuatnya lebih ketakutan adalah suasana di sekelilingnya.

Sunyi.

Tidak ada suara binatang malam. Tidak ada angin berembus. Tidak ada suara kendaraan lain.

Seolah dunia ini kosong.

Rian meringis kesakitan, berusaha bangkit. Lututnya berdarah, tetapi ia tidak peduli. Ia menoleh untuk melihat motornya…

Dan saat itu juga, darahnya langsung membeku.

Di atas motornya, duduk seorang wanita dengan tubuh kurus, mengenakan pakaian hitam legam yang compang-camping. Rambutnya panjang, berantakan, menutupi wajahnya yang pucat seperti mayat.

Tapi yang paling mengerikan…

Kepalanya perlahan-lahan menoleh ke arah Rian.

Tidak seperti kepala manusia biasa yang menoleh dari bahu.

Leher wanita itu berputar penuh 180 derajat.

Matanya kosong.

Bibirnya tersenyum lebar.

Dan ia berbicara tanpa suara.

Hanya gerakan bibir… tetapi Rian bisa membaca apa yang dikatakannya.

“Aku belum turun…”

Saat itu juga, lampu di sekelilingnya tiba-tiba menyala. Suara motor dan mobil terdengar kembali. Angin kembali berembus.

Rian tersadar. Ia kini berada di persimpangan jalan kota.

Beberapa pengendara motor berhenti, menatapnya dengan bingung. Seorang pria mendekat dan bertanya,

"Mas, nggak apa-apa? Saya lihat tadi mas jatuh sendiri, nggak ada yang nabrak."

Rian terengah-engah, masih gemetar. Ia menoleh ke arah motornya.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Jok motor itu tidak ada bekas cekungan.

Semuanya terlihat normal.

Tetapi…

Saat ia berdiri, matanya tanpa sengaja melirik kaca spion motor.

Dan di sana, di belakangnya…

Wanita itu masih duduk di boncengan, tersenyum lebar.

“Aku belum turun…”

Bab 5: Tumpangan Terakhir

Rian membeku.

Matanya terpaku pada kaca spion. Sosok itu masih di sana.

Wanita dengan wajah pucat seperti mayat, tersenyum lebar. Menyeringai.

"Aku belum turun..."

Rian merasakan bulu kuduknya meremang. Tidak. Ini tidak nyata. Ia sudah jatuh dari motor. Seharusnya, apa pun yang tadi terjadi hanyalah halusinasi.

Tetapi wanita itu tetap ada di sana.

Dan lebih buruknya…

Rian bisa merasakan napasnya.

Dekat.

Panas.

Perlahan, tanpa bisa menahan rasa penasaran bercampur ketakutannya, Rian berbalik.

Dan tepat di depan wajahnya—

Wanita itu sudah ada di sana.

Berdiri tegak. Wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah Rian.

Matanya hitam legam.

Mulutnya mulai membuka… perlahan-lahan… semakin lebar…

Lebih lebar…

Lebih lebar…

Sampai rahangnya terbuka ke bawah seperti terbelah.

Dari dalam mulut itu, terdengar suara-suara aneh.

Isak tangis.

Jeritan kesakitan.

Tawa menggema.

Semua suara bercampur menjadi satu. Suara yang tidak berasal dari dunia ini.

Dan kemudian, gelap.

 

"Rian... Bangun, Rian!"

Suara yang familiar.

Rian membuka matanya dengan lemah. Cahaya putih langsung menusuk retina. Kepalanya berdenyut hebat. Napasnya berat.

Dimana ini...?

Saat kesadarannya pulih sedikit demi sedikit, ia menyadari bahwa ia terbaring di ranjang rumah sakit.

Di sampingnya, Vina duduk dengan wajah cemas. Ada juga beberapa teman yang mengenalnya.

"Kamu sadar juga! Astaga, kamu bikin aku takut!" kata Vina dengan mata berkaca-kaca.

Rian mencoba bicara, tapi tenggorokannya kering. Setelah beberapa kali menelan ludah, ia akhirnya bertanya dengan suara serak,

"Aku... kenapa?"

"Kamu kecelakaan," jawab seorang temannya. "Ditemukan di pinggir jalan sendirian. Motormu jatuh nggak jauh dari situ."

Kecelakaan?

Sendirian?

"Tapi..." Rian berusaha mengingat. "Aku kan habis antar kamu Vin..."

Vina mengangguk. "Iya, kamu sudah antar aku. Tapi setelah itu kamu kan langsung pulang kan?"

Langsung pulang?

Tidak!

Dia ingat semuanya! Sosok itu ada di boncengannya! Dia jatuh! Semua orang melihatnya!

"Bukannya aku jatuh di lampu merah? Bukannya ada orang-orang yang nolong aku?"

Mereka saling pandang dengan bingung.

"Enggak Rian. Kamu ditemukan di jalan sepi dekat sawah. Enggak ada orang lain di sana."

Jalan sepi?

Sawah?!

"Tapi..."

Rian terdiam. Kepalanya semakin sakit. Ia mencoba mengingat dengan lebih jelas… tapi semuanya terasa kabur.

Seakan-akan kenangan itu tidak nyata.

Seakan-akan semua yang ia alami hanyalah mimpi buruk.

 

Tiga hari kemudian.

Rian akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di tubuhnya sudah membaik, meski kepalanya masih sering terasa pusing.

Motornya yang rusak juga sudah diperbaiki. Tapi ada satu hal yang mengganggunya.

Jok belakang motornya.

Saat ia melihatnya di bengkel, jok itu terlihat sedikit lebih cekung.

Seperti ada seseorang yang terlalu lama duduk di sana...

Mungkin hanya perasaan.

Mungkin cuma efek ketakutan.

Mungkin…

Rian mencoba mengabaikan semua itu. Ia sudah lelah. Ia hanya ingin pulang dan beristirahat.

Malam itu, ia memutuskan untuk tidur lebih awal.

Tapi saat ia masuk kamar…

Sesuatu ada di sana.

Di atas kasurnya.

Sosok itu.

Duduk membelakanginya. Rambut panjangnya terurai menutupi punggungnya yang kurus.

Dan sebelum Rian sempat menjerit…

Wanita itu perlahan menoleh.

Dengan senyum yang semakin lebar…

Ia berbisik,

"Aku belum turun..."


-- TAMAT -- 

Buat teman-teman yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya..

#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri

Komentar