Cerita Horor #25 AKU BELUM TURUN π
AKU BELUM TURUN
Bab 1: Boncengan yang Kosong
Langit malam gelap pekat tanpa bintang. Rian melirik jam di
ponselnya—sudah hampir pukul sebelas malam. Ia menyalakan motor dan mengarahkan
lampu ke jalanan sunyi di depan mereka.
"Yakin mau lewat sini?" tanya Vina, merapatkan jaketnya.
"Tenang aja. Ini jalan pintas, lebih cepat sampai,"
jawab Rian.
Jalan alternatif itu memang terkenal sepi dan jarang dilewati
orang, terutama di malam hari. Konon, banyak kejadian aneh terjadi di sini.
Beberapa pengendara mengaku pernah melihat bayangan menyeberang tiba-tiba,
suara langkah kaki tanpa wujud, bahkan ada yang bilang pernah membonceng
"seseorang" tanpa sadar.
Rian, tentu saja, menganggap semua itu hanya cerita kosong.
Baginya, ketakutan hanya ada di dalam pikiran.
Sepanjang perjalanan, Vina lebih banyak diam. Tangan kecilnya
melingkar di pinggang Rian, tapi genggamannya terasa lebih erat dari biasanya.
Sesekali, ia menoleh ke belakang, seperti merasa ada sesuatu yang mengikuti
mereka.
“Ada apa sih?” tanya Rian tanpa
menoleh.
Vina tidak langsung menjawab.
"Kamu nggak dengar apa-apa?"
Rian memasang telinga. Hanya suara
mesin motor dan deru angin malam. Tidak ada suara lain.
“Nggak, kenapa?”
Vina menggigit bibirnya, ragu
untuk bicara. "Nggak apa-apa..." jawabnya akhirnya.
Mereka terus melaju melewati
deretan pepohonan rindang di sisi jalan. Daun-daun bergoyang ditiup angin
malam, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang menari di aspal. Rian mencoba
mengabaikannya, tapi ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Semakin jauh mereka melaju,
suasana semakin mencekam. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan suara
jangkrik yang tadi ramai mendadak menghilang. Keheningan total menyelimuti
jalanan.
Vina menggenggam Rian lebih erat.
“Rian…” suaranya terdengar pelan,
nyaris berbisik.
"Apa?"
"Aku merasa ada yang
ikut..."
Rian tertawa kecil, meski ada
sedikit ketegangan dalam suaranya. "Ya iyalah, kamu kan di
belakangku."
"Bukan itu," balas Vina
cepat. "Rasanya... kayak ada yang duduk di belakangku juga."
Jantung Rian berdetak lebih cepat,
tapi ia berusaha tetap tenang. “Udahlah, Vin. Jangan aneh-aneh.”
Tapi saat ia melirik spion,
tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.
Di pantulan kaca, ia bisa melihat
bayangan samar di belakang Vina. Bukan hanya dua kepala, tapi tiga.
Ia menoleh ke belakang dengan
cepat. Kosong. Hanya Vina yang duduk di boncengan.
"Kenapa?" tanya Vina,
suaranya penuh ketakutan.
Rian menggeleng, berusaha
tersenyum. "Nggak, nggak apa-apa."
Ia memacu motornya lebih cepat,
berharap segera sampai di rumah Vina. Namun, perasaan aneh itu tidak hilang. Ia
merasa… ada sesuatu yang ikut bersama mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka
sampai di depan rumah Vina. Rian berhenti dan menghela napas lega.
"Udah sampai," katanya
sambil menunggu Vina turun.
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke belakang… dan
dadanya langsung terasa sesak.
Boncengan motornya kosong.
Tidak ada siapa pun di sana.
Vina menghilang.
Bab 2: Siapa yang Aku Antar Pulang?
Rian terpaku di tempatnya. Boncengan itu
kosong.
Tulang punggungnya terasa membeku, sementara bulu kuduknya berdiri
satu per satu. Napasnya memburu. Tadi, saat mulai perjalanan, Vina ada di belakangnya. Ia bahkan bisa merasakan
genggaman tangan gadis itu di pinggangnya.
Tapi sekarang? Hilang begitu
saja?
Ia buru-buru merogoh ponsel dari saku jaketnya. Jemarinya gemetar
saat ia membuka aplikasi chat dan mengetik pesan untuk Vina.
"Vin,
kamu di mana?!"
Belum ada jawaban.
Matanya menatap ke sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang
bisa menjelaskan kejadian aneh ini. Jalanan di depan rumah Vina masih sunyi.
Lampu teras rumahnya menyala, tetapi pintunya tertutup rapat. Tak ada
tanda-tanda kalau Vina baru saja masuk.
Rian menelan ludah, lalu mencoba menenangkan diri. Mungkin dia turun tanpa aku sadar? Mungkin dia buru-buru masuk
rumah tanpa pamit?
Namun, ada sesuatu yang mengganggu
pikirannya—ia tidak pernah berhenti di mana pun sejak meninggalkan jalan
angker tadi.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan dari Vina masuk.
"Kamu
di mana? Aku dari tadi nunggu di pinggir jalan, kamu malah ninggalin aku!"
Rian membelalakkan mata.
Apa?
Tangannya langsung dingin.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa di dadanya.
Ia membaca ulang pesan itu,
berharap ia hanya salah lihat. Namun, pesannya tetap sama.
Vina masih
menunggu di pinggir jalan?
Lalu… siapa
yang tadi ia bonceng sampai ke rumah?
Sebuah pemikiran mengerikan
tiba-tiba muncul di kepalanya. Sejak tadi, saat ia melihat ke spion dan melihat
tiga kepala, ia tidak berani bertanya lebih jauh
ke Vina. Ia pikir itu hanya refleksi cahaya… Tapi
bagaimana kalau bukan?
Bagaimana kalau sesuatu sudah naik ke motornya sejak awal?
Rian buru-buru menyalakan motornya
dan berbalik arah. Malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tangannya sedikit
gemetar saat menggenggam setang, tetapi ia memaksa dirinya untuk fokus.
Sepanjang perjalanan kembali ke
tempat ia meninggalkan Vina, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Mungkinkah
Vina hanya bercanda? Tidak, ini bukan gayanya.
Mungkinkah
ini hanya salah paham? Tapi bagaimana bisa? Aku benar-benar merasa ada yang
duduk di belakangku… Aku bahkan mendengar suara Vina berbicara!
Rian menelan ludah dan mencoba
mengusir pikiran buruknya.
Namun, semakin jauh ia berkendara,
semakin ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya.
Pohon-pohon di tepi jalan tampak
lebih gelap. Angin dingin berhembus lebih kencang.
Lalu, di kejauhan, ia melihat
seseorang berdiri di pinggir jalan.
Vina.
Rian menghela napas lega sekaligus
merasa merinding. Lampu motor menyorot wajah gadis itu yang terlihat tegang. Ia
berdiri di bawah pohon besar, matanya gelisah saat melihat Rian datang.
Rian langsung menghentikan
motornya dan dengan cepat turun.
"Vina!" panggilnya.
"Kamu kenapa di sini?! Aku tadi udah antar kamu sampai rumah!"
Vina menggeleng, wajahnya pucat.
"Aku dari tadi di sini Rian… Aku nunggu kamu, tapi kamu malah pergi
ninggalin aku!"
Rian merasakan perutnya mencelos.
Vina benar-benar tidak bersamanya
tadi? Lalu… siapa yang tadi ia antar pulang?
"Aku tadi beneran ngerasa
kamu di belakangku Vin," katanya dengan suara gemetar. "Aku bahkan
dengar suara kamu!"
Vina mundur selangkah, matanya
melebar. "Kamu dengar suara aku?"
Rian mengangguk.
Vina terdiam beberapa detik, lalu
dengan suara pelan, ia berkata, "Aku nggak bicara satu kata pun selama
nunggu di sini Rian…"
Darah
Rian langsung membeku.
Jika Vina tidak pernah berbicara,
lalu suara siapa yang tadi ia dengar sepanjang perjalanan?
Udara terasa semakin dingin. Malam
seakan menjadi lebih sunyi. Angin berhembus kencang, menggoyangkan
ranting-ranting pohon di sekitar mereka.
Lalu… sesuatu menarik perhatian
Rian.
Di sisi jalan, tepat di tempat ia
pertama kali menjemput Vina tadi, ada sesuatu yang tidak
seharusnya ada.
Sebuah jejak
kaki.
Tapi bukan jejak biasa.
Jejak itu berwarna hitam pekat, seperti terbakar di atas aspal. Jejak
itu tidak berujung, seolah sosok yang meninggalkannya tidak memiliki
bentuk fisik.
Rian merasa napasnya tercekat.
Ia berbalik ke arah Vina yang juga
menatap jejak itu dengan wajah ketakutan.
"Ayo kita pergi dari
sini," kata Vina pelan. "Aku nggak mau ada di sini lebih lama…"
Rian mengangguk cepat. Mereka
berdua segera naik ke motor dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Namun, saat motor mulai melaju, Rian kembali merasakan sesuatu yang aneh.
Motornya terasa lebih berat.
Seakan… ada yang ikut naik bersama mereka.
Dengan hati-hati, ia melirik
spion.
Dan
jantungnya hampir berhenti berdetak.
Ada wajah
hitam legam di belakangnya. Menyeringai.
Dan sebuah suara berbisik di
telinganya…
"Aku
belum turun…"
Bab 3: Aku Belum Turun
Rian hampir kehilangan kendali atas motornya saat mendengar suara
itu.
"Aku
belum turun…"
Suara yang berat, serak, dan dingin. Suara yang bukan milik Vina.
Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tangannya mencengkeram setang
motor lebih erat, tapi tubuhnya terasa kaku. Perlahan, dengan napas tertahan,
ia melirik spion.
Dan
saat itu juga, darahnya membeku.
Di balik punggung Vina, di tempat yang seharusnya kosong, ada wajah hitam legam dengan senyum lebar yang tidak
wajar. Matanya kosong, hanya dua lubang hitam menganga, seolah bisa menyedot
jiwa siapa pun yang menatapnya.
Wajah itu menatap
langsung ke arah Rian melalui spion.
Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Refleks, ia mengalihkan pandangannya dari spion, menatap lurus ke
depan. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak boleh
berhenti sekarang.
Motor terus melaju, tapi Rian
merasakan sesuatu yang aneh. Motornya terasa semakin berat, seolah ada banyak beban tambahan di belakangnya. Seakan yang
menumpang bukan hanya satu…
Pelan-pelan, ia mengerahkan
keberanian untuk melirik ke kaca spion lagi.
Dan
kali ini, bukan hanya satu wajah hitam yang menyeringai di belakangnya.
Ada banyak.
Lima… enam… tujuh… wajah hitam
mengerikan dengan ekspresi tersenyum
lebar, seakan sedang menikmati perjalanan mereka.
Beberapa wajah itu bertumpuk di
atas satu sama lain, seperti tumpukan mayat yang saling bergelantungan. Ada
yang kepalanya terbalik, ada yang lehernya bengkok tidak wajar, bahkan ada yang
wajahnya seakan meleleh dengan cairan hitam pekat menetes dari mata dan
mulutnya.
Rian hampir
saja menjerit.
Ia mengalihkan pandangan dari
spion dengan cepat, jantungnya berdetak liar.
"Jangan
lihat… Jangan lihat… Jangan lihat…"
Ia menggigit bibirnya, menahan
diri agar tidak menoleh ke belakang.
Karena
ia tahu, jika ia menoleh… mereka mungkin akan menariknya ikut bersama mereka.
Namun, Vina, yang sejak tadi diam,
tiba-tiba menggigil dan berbisik, "Rian… Aku merasa aneh…"
Suaranya terdengar panik. Ia mulai
merapatkan tubuhnya ke punggung Rian, tangannya mencengkeram jaket Rian dengan
erat.
"Apa yang kamu rasain?"
tanya Rian dengan suara bergetar, meski ia sebenarnya sudah
tahu jawabannya.
Vina menggeleng, tetapi tubuhnya
semakin bergetar. "Aku… Aku merasa ada yang duduk di belakangku Rian… Ada
yang bernapas di leherku…"
Rian langsung merinding. Ia juga merasakan hal yang sama.
Ia menginjak gas lebih dalam,
mencoba mempercepat laju motor. Jalanan di depan mereka masih panjang, masih
jauh dari permukiman. Ia hanya harus fokus… hanya harus membawa mereka keluar dari sini…
Tapi…
Seseorang tertawa
pelan di telinganya.
"Mau
ke mana?"
Suara itu… persis di belakangnya.
Saat itu juga, Vina menjerit.
"APA ITU?!!"
Refleks, meski ia tahu ia tidak boleh menoleh, Rian tetap melirik spion.
Dan kali ini, mereka tidak hanya duduk diam.
Sosok-sosok hitam itu bergerak.
Salah satu dari mereka perlahan mengulurkan tangannya ke arah Rian.
Jari-jari panjang, kurus, dan
menghitam seperti terbakar itu melayang mendekati bahunya.
Rian berusaha untuk tidak panik, tapi semakin lama, tangan itu semakin dekat.
"VIN, PEGANG ERAT!!"
Tanpa pikir panjang, Rian mengerem mendadak!
Motor terguncang keras. Ban
berdecit melawan aspal. Vina hampir terpelanting ke depan, tetapi ia
berpegangan erat pada Rian.
Dan
sesuatu yang dingin seperti kabut hitam menyentuh tengkuk Rian.
Tapi saat motor berhenti… suasana berubah.
Jalanan yang tadi sunyi kini terasa lebih sepi dari biasanya. Angin berhenti
berhembus. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara binatang malam.
Seolah mereka berada di ruang kosong… tanpa kehidupan.
Rian menelan ludah. Perlahan, ia
melirik spion.
Kosong.
Tidak ada sosok hitam itu lagi.
Tidak ada wajah-wajah yang tersenyum menyeramkan.
Hanya dia dan Vina.
Tapi…
Kenapa punggungnya masih terasa berat?
Kenapa ia
masih merasa ada sesuatu di belakangnya?
Vina menggenggam lengannya,
tangannya dingin seperti es. "Rian… Aku nggak mau di sini…"
Rian mengangguk cepat. Tanpa
membuang waktu, ia segera menarik gas dan melaju
sekencang mungkin.
Kali ini, ia tidak peduli lagi
apakah ada yang ikut di belakangnya. Ia hanya ingin keluar
dari jalan ini.
Secepat
mungkin.
Mereka akhirnya sampai di area
pemukiman. Lampu-lampu rumah mulai terlihat di kejauhan. Ada rasa lega yang
perlahan menyelimuti mereka, meskipun ketakutan masih tersisa di hati.
Mereka tidak berbicara satu sama
lain. Tidak berani.
Begitu tiba di depan rumah Vina,
Rian berhenti dan menunggu gadis itu turun.
Vina membuka helmnya, wajahnya
masih pucat. Ia menghela napas panjang, lalu turun dengan langkah gemetar.
Rian menatapnya. "Vin… Kamu
nggak apa-apa?"
Vina mengangguk, meski matanya
masih menyiratkan ketakutan. "Aku… Aku cuma pengen cepat masuk
rumah."
Rian tersenyum tipis. "Oke,
besok kita bicara soal ini ya."
Vina mengangguk lagi, lalu
bergegas masuk ke rumah.
Rian menghela napas lega. Akhirnya selesai.
Ia mengusap wajahnya, lalu melihat
ke kaca spion untuk memastikan semuanya benar-benar sudah berakhir.
Dan saat itu juga, wajahnya langsung pucat pasi.
Boncengan
motornya masih tidak kosong.
Ada bekas
cekungan di jok motor.
Seolah sesuatu
masih duduk di sana.
Dan dalam heningnya malam,
terdengar bisikan pelan…
"Aku
belum turun…"
Bab 4: Jangan Menoleh
Rian menahan napas.
Matanya masih terpaku pada kaca spion. Ia ingin meyakinkan dirinya
bahwa itu hanya ilusi. Bahwa mungkin ia terlalu lelah.
Bahwa rasa takutnya sejak tadi hanya membuat pikirannya berhalusinasi.
Tapi…
Cekungan
di jok motor itu masih ada.
Dan
semakin dalam.
Seolah sesuatu yang tak terlihat baru
saja bergeser sedikit.
Dari dalam rumah, lampu di kamar Vina menyala, menandakan bahwa
gadis itu sudah aman di dalam. Tetapi Rian belum
bisa pergi.
Seseorang
masih bersamanya.
Dalam kepanikan yang semakin menyesakkan dada, ia mencoba mengatur
napas. Ia tidak boleh panik. Tidak boleh sembarangan
bergerak.
Jangan
menoleh.
Jangan
melihat ke belakang.
Ia menggenggam setang motornya dengan erat. Jika ia tetap diam, apa yang akan terjadi? Apakah
sosok itu akan tetap duduk di sana… menunggu… menunggunya
menoleh?
Bibirnya terasa kering. Tubuhnya
kaku.
Dan kemudian, sesuatu menyentuh bahunya.
Lembut.
Dingin.
Seperti jemari
yang rapuh.
Rian nyaris melompat dari
motornya. Kakinya melemas, tapi ia segera menarik napas dalam-dalam. Ia harus pergi. Sekarang juga.
Dengan tangan gemetar, ia meraih
gas dan menariknya sekuat mungkin.
Motor melaju dengan kecepatan
tinggi, memecah kesunyian malam. Angin menerpa wajahnya, tetapi rasa dingin aneh yang menempel di bahunya tidak menghilang.
Seolah sesuatu masih menempel di
sana… masih duduk di belakangnya…
Dan kemudian, telinganya menangkap suara napas.
Dekat
sekali.
Persis
di belakang telinganya.
Seseorang sedang
bernapas di tengkuknya.
Perlahan, dengan suara lirih dan
menyeramkan, suara itu berbisik,
“Kenapa
buru-buru?”
Rian menjerit!
Refleks, tangannya hampir terlepas
dari setang motor. Ia nyaris kehilangan kendali, tapi untungnya ia bisa segera
menguasai diri.
Ia tidak
boleh berhenti!
Ia tidak
boleh menoleh!
Jangan
menoleh.
Jangan
menoleh.
Ia mencoba memfokuskan
pandangannya ke depan, tapi sudut matanya menangkap sesuatu yang membuat
darahnya semakin membeku.
Bayangan
hitam.
Bayangan itu… memeluknya dari belakang.
Bukan hanya sekadar duduk.
Sosok itu menempel
erat di punggungnya.
Perlahan, sesuatu yang dingin
menjalar ke lehernya. Dua tangan
kurus dengan jari-jari panjang… mulai merayap ke bahunya.
Dan dalam bisikan yang semakin
jelas, suara itu berkata,
“Aku
sudah bilang… Aku belum turun…”
BRAK!!
Rian menabrak sesuatu!
Tubuhnya terpental ke jalanan.
Motornya terguling beberapa meter ke depan.
Rasa sakit menjalar di sekujur
tubuhnya, tetapi yang membuatnya lebih ketakutan adalah suasana di sekelilingnya.
Sunyi.
Tidak ada suara binatang malam.
Tidak ada angin berembus. Tidak ada suara kendaraan lain.
Seolah
dunia ini kosong.
Rian meringis kesakitan, berusaha
bangkit. Lututnya berdarah, tetapi ia tidak peduli. Ia menoleh untuk melihat
motornya…
Dan saat itu juga, darahnya langsung membeku.
Di atas motornya, duduk seorang
wanita dengan tubuh kurus, mengenakan pakaian hitam legam yang compang-camping.
Rambutnya panjang, berantakan, menutupi wajahnya yang pucat seperti mayat.
Tapi yang paling mengerikan…
Kepalanya
perlahan-lahan menoleh ke arah Rian.
Tidak seperti kepala manusia biasa
yang menoleh dari bahu.
Leher wanita itu berputar penuh 180 derajat.
Matanya
kosong.
Bibirnya
tersenyum lebar.
Dan
ia berbicara tanpa suara.
Hanya gerakan bibir… tetapi Rian
bisa membaca apa yang dikatakannya.
“Aku
belum turun…”
Saat itu juga, lampu di
sekelilingnya tiba-tiba menyala. Suara motor dan mobil terdengar kembali. Angin
kembali berembus.
Rian tersadar. Ia kini berada di persimpangan jalan kota.
Beberapa pengendara motor
berhenti, menatapnya dengan bingung. Seorang pria mendekat dan bertanya,
"Mas, nggak apa-apa? Saya
lihat tadi mas jatuh sendiri, nggak ada yang nabrak."
Rian terengah-engah, masih
gemetar. Ia menoleh ke arah motornya.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Jok motor itu tidak ada bekas cekungan.
Semuanya terlihat
normal.
Tetapi…
Saat ia berdiri, matanya tanpa
sengaja melirik kaca spion motor.
Dan di sana, di belakangnya…
Wanita itu masih duduk di
boncengan, tersenyum lebar.
“Aku
belum turun…”
Bab 5: Tumpangan Terakhir
Rian
membeku.
Matanya terpaku pada kaca spion. Sosok
itu masih di sana.
Wanita dengan wajah pucat seperti mayat, tersenyum lebar. Menyeringai.
"Aku
belum turun..."
Rian merasakan bulu kuduknya meremang. Tidak.
Ini tidak nyata. Ia sudah jatuh dari motor. Seharusnya, apa pun
yang tadi terjadi hanyalah halusinasi.
Tetapi wanita itu tetap ada di sana.
Dan lebih buruknya…
Rian
bisa merasakan napasnya.
Dekat.
Panas.
Perlahan, tanpa bisa menahan rasa penasaran bercampur
ketakutannya, Rian berbalik.
Dan tepat di depan wajahnya—
Wanita
itu sudah ada di sana.
Berdiri tegak. Wajahnya hanya berjarak sejengkal
dari wajah Rian.
Matanya
hitam legam.
Mulutnya
mulai membuka… perlahan-lahan… semakin lebar…
Lebih
lebar…
Lebih
lebar…
Sampai rahangnya terbuka ke
bawah seperti terbelah.
Dari dalam mulut itu, terdengar suara-suara aneh.
Isak
tangis.
Jeritan
kesakitan.
Tawa
menggema.
Semua suara bercampur menjadi
satu. Suara yang tidak berasal dari dunia ini.
Dan kemudian, gelap.
"Rian...
Bangun, Rian!"
Suara yang familiar.
Rian membuka matanya dengan lemah.
Cahaya putih langsung menusuk retina. Kepalanya berdenyut hebat. Napasnya
berat.
Dimana
ini...?
Saat kesadarannya pulih sedikit
demi sedikit, ia menyadari bahwa ia terbaring di
ranjang rumah sakit.
Di sampingnya, Vina duduk dengan
wajah cemas. Ada juga beberapa teman yang mengenalnya.
"Kamu sadar juga! Astaga,
kamu bikin aku takut!" kata Vina dengan mata berkaca-kaca.
Rian mencoba bicara, tapi tenggorokannya
kering. Setelah beberapa kali menelan ludah, ia akhirnya bertanya dengan suara
serak,
"Aku...
kenapa?"
"Kamu kecelakaan," jawab
seorang temannya. "Ditemukan di pinggir jalan sendirian. Motormu jatuh
nggak jauh dari situ."
Kecelakaan?
Sendirian?
"Tapi..." Rian berusaha
mengingat. "Aku kan habis antar kamu Vin..."
Vina mengangguk. "Iya, kamu
sudah antar aku. Tapi setelah itu kamu kan langsung pulang kan?"
Langsung
pulang?
Tidak!
Dia ingat semuanya! Sosok itu ada
di boncengannya! Dia jatuh! Semua orang melihatnya!
"Bukannya aku jatuh di lampu
merah? Bukannya ada orang-orang yang nolong aku?"
Mereka saling pandang dengan
bingung.
"Enggak Rian. Kamu ditemukan
di jalan sepi dekat sawah. Enggak ada orang lain di sana."
Jalan
sepi?
Sawah?!
"Tapi..."
Rian terdiam. Kepalanya semakin
sakit. Ia mencoba mengingat dengan lebih jelas… tapi semuanya terasa kabur.
Seakan-akan kenangan itu tidak nyata.
Seakan-akan semua yang ia alami
hanyalah mimpi buruk.
Tiga
hari kemudian.
Rian akhirnya diperbolehkan
pulang. Luka-luka di tubuhnya sudah membaik, meski kepalanya masih sering
terasa pusing.
Motornya yang rusak juga sudah
diperbaiki. Tapi ada satu hal yang mengganggunya.
Jok belakang motornya.
Saat ia melihatnya di bengkel, jok itu terlihat sedikit lebih cekung.
Seperti
ada seseorang yang terlalu lama duduk di sana...
Mungkin hanya perasaan.
Mungkin cuma efek ketakutan.
Mungkin…
Rian mencoba mengabaikan semua
itu. Ia sudah lelah. Ia hanya ingin pulang dan beristirahat.
Malam itu, ia memutuskan untuk
tidur lebih awal.
Tapi saat ia masuk kamar…
Sesuatu
ada di sana.
Di atas kasurnya.
Sosok
itu.
Duduk membelakanginya. Rambut
panjangnya terurai menutupi punggungnya yang kurus.
Dan sebelum Rian sempat menjerit…
Wanita
itu perlahan menoleh.
Dengan senyum yang semakin lebar…
Ia berbisik,
"Aku
belum turun..."
-- TAMAT --
Buat teman-teman yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya..
#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri
%20(6).png)
Komentar
Posting Komentar