Cerita Horor #19 TUMBAL KESERAKAHAN 👀
TUMBAL KESERAKAHAN
Bab
1: Gerobak Bakwan yang Ajaib
Pak Seno, seorang
pedagang bakwan kawi sederhana, dikenal baik di kampungnya. Setiap pagi, ia
mendorong gerobaknya yang usang, berhenti di depan sekolah, pasar, atau di
ujung gang-gang kecil tempat anak-anak sering berkumpul. Bakwannya terkenal
renyah dan gurih, membuat pelanggan setianya selalu kembali.
"Pak Seno!
Bakwannya dua, tambah tahu satu, ya!" teriak seorang bocah sambil
menyerahkan uang koin.
"Siap, Nak. Tunggu sebentar, ya. Ini bonus cabai buat kamu!" balas
Pak Seno sambil tersenyum ramah.
Hidupnya memang
pas-pasan, tapi ia tak pernah mengeluh. Namun, dalam hati, ia sering
bertanya-tanya apakah hidupnya akan terus seperti ini. Ia ingin memberikan
kehidupan yang lebih baik untuk istri dan anaknya.
Suatu hari,
sesuatu yang aneh terjadi. Setelah pulang dari berjualan, Pak Seno melihat
seseorang berdiri di dekat gerobaknya yang diparkir di halaman rumah. Sosok itu
berpakaian serba hitam dengan topi lebar yang menutupi wajahnya.
"Permisi,
Pak, cari siapa?" tanya Pak Seno, sedikit ragu.
Sosok itu tak menjawab. Ia hanya mengeluarkan kantong kain kecil dari sakunya
dan meletakkannya di atas gerobak Pak Seno.
"Pak, ini apa?" tanyanya lagi, tapi sosok itu sudah menghilang di
balik gelap malam.
Pak Seno membuka
kantong itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada butiran-butiran kecil berwarna
hitam yang mengeluarkan aroma tajam. Ia merasa bingung, tapi entah kenapa, ada
dorongan dalam dirinya untuk menyimpan benda itu di gerobaknya.
Seminggu setelah
kejadian itu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Bakwan Pak Seno menjadi
lebih laris dari biasanya. Pelanggan terus berdatangan, bahkan orang-orang dari
kampung sebelah mulai ikut membeli.
"Pak ,
kok makin banyak yang beli dagangan kita ya? Bakwan kawi kita ada resep baru, kah?" tanya Bu
Rina suatu malam saat membantu suaminya membersihkan gerobak.
"Nggak ada yang berubah. Semua masih sama seperti biasa. Mungkin ini
rejeki kita," jawab Pak Seno sambil tersenyum.
Dalam waktu
singkat, usaha Pak Seno berkembang pesat. Gerobaknya yang kecil diganti dengan
gerobak baru yang lebih besar dan dicat biru cerah. Ia juga mempekerjakan dua
karyawan untuk membantu memasak dan melayani pelanggan. Tak hanya itu, Pak Seno
membeli beberapa gerobak tambahan untuk dijalankan di tempat lain.
Rumahnya yang
dulu kecil dan reyot kini berubah menjadi rumah lumayan besar dengan pagar besi tinggi.
Kehidupan keluarga Pak Seno terlihat seperti mimpi yang menjadi nyata.
Namun, di balik
kesuksesan itu, desas-desus mulai bermunculan di kampung.
"Bu Sari,
apa nggak aneh, jualan bakwan kok bisa kaya raya gitu ya?" bisik Bu Tarjo pada
suatu sore.
"Iya, aku dengar katanya Mas Seno itu pakai pesugihan. Banyak yang bilang
dia harus kasih tumbal segala," jawab Bu Sari dengan nada serius.
"Ih, serem. Aku jadi takut beli bakwannya," sahut Bu Tarjo sambil
bergidik.
Gosip itu semakin
menyebar. Setiap sudut kampung membicarakan hal yang sama.
Malam itu,
setelah semua pekerja pulang, Pak Seno duduk termenung di ruang tamu. Bu Rina,
istrinya, mendekatinya dengan wajah gelisah.
"Pak, aku
nggak enak. Orang-orang di kampung mulai curiga sama kita," katanya pelan.
"Biarkan saja. Mereka cuma iri. Kita nggak perlu peduli," jawab Pak
Seno sambil menghela napas panjang.
"Tapi… aku sering dengar suara-suara aneh di dapur malam-malam. Kamu yakin
ini semua nggak ada hubungannya dengan sesuatu yang... nggak wajar?" Bu
Rina menatap suaminya dengan cemas.
Pak Seno terdiam,
memandang keluar jendela. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ada sesuatu yang salah.
Tapi ia tak mau membahasnya dengan istrinya.
"Sudahlah,
Bu. Kamu terlalu banyak berpikir. Tidur saja. Besok kita harus bangun
pagi," katanya, mencoba mengakhiri pembicaraan.
Namun, saat Bu
Rina pergi ke kamar, Pak Seno tetap duduk di ruang tamu. Matanya terpaku pada
gerobak biru di halaman, mengingat sosok misterius yang menyerahkan kantong
kain itu. Dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya: apakah semua ini benar-benar
rejeki, atau ada harga yang harus ia bayar?
Bab
2: Kejanggalan di Dapur
Dani, karyawan
baru Pak Seno, merasa ada sesuatu yang aneh sejak hari pertama ia bekerja di
rumah itu. Meski suasana kerja terlihat biasa saja di siang hari, ada
keheningan malam yang membuat bulu kuduknya meremang. Rumah besar milik Pak
Seno, dengan dapur yang luas dan peralatan modern, menyimpan hawa yang terasa
ganjil.
Suatu malam, Dani
harus lembur di dapur untuk mempersiapkan adonan bakwan untuk hari berikutnya.
Lampu dapur yang terang benderang tak mampu mengusir perasaan was-was yang
tiba-tiba menyelimutinya.
Saat ia sedang
sibuk mengaduk adonan, terdengar suara gemerisik dari pojok ruangan. Dani
berhenti sejenak, memandang ke arah suara itu.
"Siapa di
sana?" panggilnya dengan suara gemetar.
Tak ada jawaban.
Ia mencoba mengabaikannya dan kembali bekerja, tapi suara itu muncul lagi, kali
ini lebih keras, seperti sesuatu yang menggesek-gesek lantai. Dani menelan
ludah. Ia beranikan diri melangkah mendekati sumber suara.
Ketika ia menoleh
ke sudut dapur, ia melihat sesuatu. Bayangan hitam bergerak cepat, melintasi
dapur menuju pintu belakang.
"Halo? Ini
siapa?" tanya Dani, mencoba terdengar tegar meski tubuhnya bergetar.
Ia mendekati
pintu belakang dengan langkah pelan, tapi saat membuka pintu, yang ia temukan
hanya angin dingin yang menerpa wajahnya. Malam itu terasa lebih sunyi dari
biasanya.
Keesokan harinya,
Dani menceritakan kejadian itu kepada rekan-rekan kerjanya.
"Semalam aku
lihat sesuatu di dapur. Bayangan hitam, besar, bergerak cepat," katanya
dengan nada serius saat mereka berkumpul di ruang istirahat.
"Ah, palingan tikus besar. Rumah segede ini pasti banyak tikusnya,"
balas Tono, salah satu karyawan senior, sambil tertawa kecil.
"Tikus? Tikus mana ada yang sebesar itu, Ton. Aku yakin ini bukan tikus
biasa," bantah Dani dengan wajah tegang.
"Sudahlah, Dani. Jangan banyak mikir. Mungkin kamu kecapekan. Dapur di
malam hari memang suka bikin parno," ujar Tono, mencoba meredakan suasana.
Namun, Dani tak
bisa melupakan bayangan itu. Ada sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang
membuatnya merasa diawasi setiap kali ia berada di dapur.
Tak lama setelah
kejadian itu, salah satu karyawan, Yanti, mulai menunjukkan tanda-tanda sakit.
Awalnya, ia hanya terlihat lemas dan sering mengeluh pusing.
"Yanti, kamu
kenapa? Kok pucat banget?" tanya Bu Rina suatu pagi saat melihat Yanti
duduk lesu di sudut dapur.
"Nggak tahu, Bu. Rasanya badan ini lemas terus. Semalam saya mimpi buruk
lagi," jawab Yanti dengan suara lemah.
"Mimpi apa?" tanya Dani penasaran.
Yanti menghela
napas panjang sebelum menjawab. "Ada sosok hitam dengan mata merah
menyala. Dia berdiri di ujung tempat tidurku, diam saja, tapi aku merasa sesak,
seperti sulit bernapas."
Dani yang
mendengar itu langsung teringat bayangan hitam yang ia lihat di dapur. Ia
menatap Yanti dengan cemas. "Itu bukan cuma mimpi, Yanti. Aku juga lihat
bayangan hitam di dapur malam itu," kata Dani, suaranya bergetar.
Yanti hanya
mengangguk pelan, seolah mengiyakan ketakutan Dani.
Beberapa hari
kemudian, kondisi Yanti semakin memburuk. Ia sering mengigau, menyebut-nyebut
sosok hitam yang terus mengganggunya. Hingga suatu malam, tubuhnya mendadak
kejang-kejang sebelum akhirnya ia mengembuskan napas terakhir.
Kabar kematian
Yanti menyebar cepat. Para karyawan lain yang semula mencoba mengabaikan
kejanggalan di rumah Pak Seno, kini tak bisa lagi menutupi rasa takut mereka.
"Ton, aku
nggak mau kerja di sini lagi. Ini udah nggak wajar," bisik Dani pada Tono
setelah pemakaman Yanti.
"Aku juga mulai takut, Dani. Tapi kalau kita keluar, mau kerja apa lagi?
Cari kerja sekarang susah," balas Tono dengan nada gelisah.
Sementara itu,
gosip di kampung semakin liar. Orang-orang mulai membicarakan kematian Yanti
sebagai bukti bahwa Pak Seno menggunakan pesugihan.
"Itu pasti
tumbalnya. Dengar-dengar, kalau pesugihan nggak kasih tumbal, yang punya
pesugihan bakal kena sendiri," kata Bu Sari pada tetangganya.
"Ih, serem! Pokoknya aku jadi nggak mau beli bakwan dari dia," sahut Bu
Tarjo sambil bergidik.
Rumah besar Pak
Seno yang dulu menjadi kebanggaan kini berubah menjadi sumber ketakutan bagi
semua orang. Dani dan para karyawan lainnya hanya bisa berharap mereka tidak
menjadi korban berikutnya.
Bab
3: Perjanjian dengan Kegelapan
Malam itu, udara
terasa dingin menusuk. Pak Seno duduk di bawah pohon besar di halaman rumahnya,
membawa sesajen berupa bunga, kemenyan, dan mangkuk berisi darah ayam. Sinar
bulan yang temaram menyoroti wajahnya yang penuh kegelisahan. Dengan tangan
gemetar, ia mulai menaburkan bunga di sekitar pohon sambil menggumamkan doa-doa
dengan nada yang nyaris tak terdengar.
"Aku sudah
memenuhi permintaan kalian. Sudah cukup. Jangan ambil lebih banyak lagi,"
bisiknya dengan suara serak.
Angin tiba-tiba
berhembus kencang, membawa aroma busuk yang menusuk hidung. Dari kegelapan di
balik pohon, muncul suara berat dan serak yang membuat jantung Pak Seno
berdebar kencang.
"Tumbal
berikutnya harus segera diberikan. Jika tidak, kamu dan keluargamu yang akan
kami ambil," suara itu bergema di telinganya, seolah datang dari segala
arah.
Pak Seno
menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di
pelipisnya. "Tidak… tolong, beri aku waktu. Aku tidak bisa kehilangan
lebih banyak orang," katanya memohon.
Namun, suara itu
tertawa pelan, tawa yang dingin dan mengerikan. "Kesepakatan sudah dibuat,
manusia. Keserakahanmu telah mengikatmu pada kami. Ingat, kami selalu
mengawasi."
Pak Seno
menunduk, tak mampu membalas. Dengan langkah gontai, ia kembali ke rumah,
meninggalkan aroma kemenyan yang samar-samar masih tercium.
Ketika Pak Seno
membuka pintu rumah, Bu Rina sedang duduk di ruang tamu dengan wajah tegang.
Matanya tajam menatap suaminya.
"Kamu dari
mana, Pak? Aku lihat kamu lagi di bawah pohon itu," tanya Bu Rina dengan
nada curiga.
"Sudah, nggak usah tanya-tanya. Tidur saja, besok pagi kamu harus bangun
lebih awal," jawab Pak Seno cepat sambil menghindari tatapan istrinya.
Bu Rina tidak
puas dengan jawaban itu. "Aku tahu ada yang nggak beres. Kamu akhir-akhir
ini sering keluar malam. Jangan-jangan… ini ada hubungannya dengan semua gosip
yang beredar di kampung?" desaknya.
Pak Seno
membanting pintu kamar tanpa menjawab. "Tidur saja, Rina! Aku capek,"
teriaknya dari balik pintu.
Bu Rina duduk
diam, menatap ke arah kamar dengan perasaan bercampur aduk. Ada sesuatu yang
tidak diceritakan suaminya, dan ia mulai takut bahwa gosip kampung mungkin ada
benarnya.
Sementara itu,
Dani, salah satu karyawan, juga semakin dihantui rasa takut. Malam itu, ia
melihat Pak Seno membawa sesuatu yang dibungkus kain merah menuju pohon besar.
Keingintahuannya membuatnya memberanikan diri mengintip dari jauh.
"Apa yang
sebenarnya dia lakukan?" bisik Dani pada dirinya sendiri. Ia melihat Pak
Seno menunduk sambil melafalkan sesuatu, lalu menaruh bungkusan itu di bawah
pohon. Setelah itu, angin tiba-tiba berhembus kencang, membuat daun-daun kering
beterbangan. Dani mundur perlahan, takut ketahuan.
Keesokan harinya,
Dani bercerita kepada Tono.
"Ton, aku
yakin banget Pak Seno ada main dengan sesuatu yang nggak beres. Semalam aku
lihat dia bawa sesajen ke pohon besar di halaman," kata Dani dengan nada
serius.
"Sesajen? Kamu serius?" Tono mencoba memastikan.
"Iya. Ini makin nggak wajar. Yanti meninggal, terus malam-malam dia kayak
orang ngomong sendiri di pohon. Aku nggak mau jadi korban berikutnya,"
ucap Dani dengan wajah pucat.
Tono terdiam. Ia
mulai merasa bahwa pekerjaan ini tidak layak untuk dipertahankan, meski
bayarannya cukup besar.
Di malam yang sama, ketika Pak Seno masuk ke kamar dengan berteriak, Bu Rina langsung menyusulnya dan dengan sabar mencoba bertanya lagi. "Pak, apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar malam-malam? Jangan bohong lagi!"
Pak Seno menghela
napas panjang. Ia duduk di tepi tempat tidur, menunduk, dan akhirnya berkata
dengan nada lemah, "Aku hanya ingin kita keluar dari kemiskinan. Semua
yang kulakukan ini untuk keluarga."
"Tapi kenapa
harus seperti ini? Aku dengar orang-orang bilang tentang pesugihan. Apa itu
benar, Pak?" Bu Rina mendesak, air matanya mulai menetes.
Pak Seno hanya
diam, lalu beranjak pergi ke ruang tamu. Ia tahu, pengakuannya hanya akan
membuat istrinya semakin takut. Di dalam hatinya, ia menyesal telah memulai
semua ini, tetapi ia juga tahu bahwa sekarang ia sudah terjebak terlalu dalam.
Malam itu, ia
duduk di ruang tamu, menatap rumah besarnya yang kini terasa seperti penjara.
Di luar, bayangan hitam melintas cepat di halaman, seperti sedang menunggu
giliran untuk mengambil tumbal berikutnya.
Bab
4: Tumbal Terakhir
Rumah besar Pak
Seno kini terasa sunyi dan mencekam. Akhirnya setelah beberapa minggu kematian Yanti, semua karyawan
memutuskan untuk berhenti bekerja. Tidak ada yang berani lagi mendekati rumah
itu. Suara-suara aneh, bayangan hitam, dan hawa dingin yang menyelimuti tempat
itu membuat para tetangga semakin yakin bahwa rumah itu telah menjadi sarang
makhluk gaib.
Di dapur yang kini
kosong, alat-alat masak berdebu dan gerobak-gerobak besar hanya teronggok tak
terpakai. Pak Seno, yang dulunya sibuk melayani pelanggan, kini menghabiskan
harinya dalam keheningan. Pendapatannya menurun drastis. Namun, yang membuatnya
lebih takut adalah ancaman makhluk gaib yang selalu terngiang di telinganya:
tumbal berikutnya harus segera diserahkan.
Suatu malam, Bu
Rina terbangun oleh suara lirih dari kamar anak mereka, Wati. Ia membuka
mata, tubuhnya merinding karena mendengar suara seperti bisikan, namun tidak
jelas dari mana asalnya. Dengan gemetar, ia menyentuh lengan Pak Seno yang
terbaring di sebelahnya.
"Pak,
bangun. Ada suara dari kamar Wati," bisiknya panik.
Pak Seno, yang
sudah kelelahan dengan semua beban pikirannya, hanya bergumam. "Sudah
tidur saja, Rin. Itu mungkin hanya angin."
"Tidak, Pak.
Suaranya seperti ada orang yang berbicara," desak Bu Rina.
Pak Seno menghela
napas dan bangun dengan enggan. Mereka berdua berjalan menuju kamar Wati.
Saat membuka pintu, mereka melihat putri mereka tertidur pulas. Namun, ada
sesuatu yang aneh di sudut kamar.
Bu Rina menunjuk
dengan wajah pucat. "Pak… itu… bayangan apa di pojok sana?"
Pak Seno melihat
ke arah yang ditunjuk istrinya. Sebuah bayangan hitam besar tampak diam di
sana, matanya merah menyala, menatap mereka tanpa berkedip.
"Keluar dari
rumahku!" teriak Pak Seno sambil meraih benda apa saja yang bisa ia
gunakan untuk mengusir sosok itu.
Namun, makhluk
itu tidak bergerak. Sebaliknya, suara serak yang dingin memenuhi ruangan.
"Waktumu telah habis, manusia. Tumbal harus diberikan."
Pak Seno mencoba
melawan rasa takutnya. "Ambil aku saja! Jangan ambil mereka! Ini semua
salahku!"
Makhluk itu tertawa dingin. "Keserakahanmu tak bisa ditebus hanya dengan pengorbananmu sendiri. Semuanya akan kami ambil, satu per satu." Setelah berkata itu, makhluk itu menghilang, lenyap seketika.
Di tengah malam hari berikutnya yang gelap, suara jeritan menggema dari kamar Wati. Pak Seno dan Bu Rina
terbangun dengan terkejut dan langsung berlari ke kamar anak mereka. Ketika
pintu terbuka, pemandangan yang mereka lihat membuat Bu Rina jatuh pingsan.
Wati terbaring di tempat tidurnya dengan wajah pucat, tubuhnya kaku tak bernyawa. Di
lantai, Bu Rina tersungkur setelah kehilangan kesadaran. Pak Seno terhuyung
mendekati tubuh anaknya.
"Tidak…
tidak… ini tidak mungkin. Ambil aku saja! Jangan ambil anakku!" teriak Pak
Seno histeris, memeluk tubuh kecil putrinya yang dingin.
Namun, suara dingin
itu kembali terdengar, memenuhi seluruh ruangan. "Perjanjian adalah
perjanjian, manusia. Keserakahanmu adalah kutukan bagi keluargamu. Ini baru
permulaan."
Pak Seno terjatuh
ke lantai, menangis tersedu-sedu. Dalam keputusasaan, ia melihat ke arah jendela.
Bayangan hitam itu perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang menusuk.
Keesokan harinya,
kabar kematian Wati menyebar ke seluruh kampung. Para tetangga hanya bisa
bergunjing dari jauh, tak ada yang berani mendekati rumah itu. Bu Rina masih
terbaring tak sadarkan diri, sementara Pak Seno duduk di depan pohon besar di
halaman rumahnya.
Bab
5: Penebusan Dosa
Malam itu, Pak
Seno duduk di ruang tamu rumahnya yang terasa semakin sunyi. Bayangan wajah
anaknya, Wati, terus menghantui pikirannya. Ia sadar bahwa keserakahannya
telah membawa kehancuran bagi keluarganya. Di tangannya tergenggam sebuah
kalung emas kecil—benda terakhir yang ia dapatkan dari makhluk gaib sebagai
simbol perjanjian mereka.
Dengan tekad
bulat, ia melangkah keluar rumah menuju pohon besar di halaman. Udara malam
terasa menusuk, membuat bulu kuduknya berdiri. Di bawah pohon itu, ia telah
menyiapkan tumpukan barang-barang yang ia terima selama perjanjian: sesajen,
perhiasan, dan benda-benda lainnya yang menjadi bukti dari kejahatan batinnya.
Saat ia
menyalakan api di atas barang-barang tersebut, suara berat dan serak kembali
terdengar dari kegelapan. "Apa yang kau lakukan, manusia?"
Pak Seno berdiri
dengan gemetar, namun ia memberanikan diri untuk menjawab. "Aku
menghentikan semuanya. Ambil kembali kekayaanmu. Aku tidak butuh apa-apa lagi.
Aku hanya ingin keluargaku bebas!"
Bayangan hitam
muncul perlahan dari balik pohon. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke
arah Pak Seno. "Kamu pikir semudah itu keluar dari perjanjian ini? Semua
yang kamu nikmati telah kami beri. Harga yang harus dibayar adalah
nyawamu."
Pak Seno menatap
makhluk itu dengan mata berkaca-kaca. "Ambil saja nyawaku. Aku tidak
peduli. Tapi lepaskan istriku. Biarkan dia hidup tenang. Jangan ganggu dia
lagi."
Makhluk itu
tertawa dingin. "Manusia memang lemah. Selalu menyesal di akhir. Baiklah,
kami akan menerima pengorbananmu. Tapi ingat, bekas dosa ini tidak akan pernah
hilang."
Angin kencang
tiba-tiba berhembus, membuat api semakin membesar. Di dalam api, Pak Seno
melihat bayangan Wati tersenyum kepadanya, membuat hatinya sedikit
tenang.
Keesokan paginya,
Bu Rina menemukan suaminya tergeletak di bawah pohon besar itu. Tubuhnya sudah
dingin, namun di wajahnya ada ekspresi damai yang belum pernah ia lihat
sebelumnya.
Dengan bantuan
para tetangga, Bu Rina menguburkan Pak Seno di pemakaman kampung. Meski penuh
dengan rasa kehilangan, ia merasa ada beban besar yang hilang dari
kehidupannya.
Beberapa bulan
setelah kepergian Pak Seno, Bu Rina memutuskan untuk menjual rumah besar mereka. Ia pindah ke rumah kecil di pinggir kampung dan melanjutkan usaha
bakwan kawi milik suaminya. Kini, ia berjualan lagi dengan menggunakan gerobak kecil
yang pernah menjadi saksi perjuangan awal mereka.
Suatu pagi,
seorang tetangga, Pak Tarman, mampir ke gerobak Bu Rina. "Bu, aku salut.
Setelah semua yang terjadi, Ibu masih mau jualan begini."
Bu Rina tersenyum
kecil. "Harta itu tidak ada artinya, Pak. Kalau hidup kita penuh dengan
dosa, semua itu cuma beban. Sekarang, aku cuma mau hidup sederhana dan
tenang."
Tetangga-tetangga
mulai sering membantu Bu Rina. Mereka tahu kisah keluarganya dan ikut merasa
lega bahwa kengerian yang selama ini menghantui kampung itu telah berakhir.
Setahun kemudian,
rumah megah itu akhirnya tetap dibiarkan kosong oleh pemilik barunya, menjadi sarang
bagi kisah-kisah seram yang diceritakan dari generasi ke generasi. Dan pohon
besar di halaman rumah itu tetap berdiri, menjadi saksi bisu dari keserakahan
manusia yang membawa kehancuran.
Di bawah pohon
besar di halaman rumah lama Pak Seno, anak-anak kampung sering bermain tanpa
rasa takut. Pohon itu tetap berdiri kokoh, namun kini hanya menjadi saksi bisu
dari kisah tragis seorang pedagang yang terlena oleh keserakahan.
Bu Rina tetap
berjualan bakwan kawi setiap pagi. Di gerobaknya, ia menggantung sebuah tulisan
kecil yang sering menarik perhatian pelanggan:
"Harta
bisa dicari, tapi keluarga tidak. Jangan pernah mengorbankan cinta demi
kekayaan."
Pesannya menyebar, menjadi pelajaran bagi orang-orang di kampung itu.
-- TAMAT --
Buat teman-teman yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya..
#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri
.png)
Komentar
Posting Komentar