Cerita Horor #19 TUMBAL KESERAKAHAN 👀

 

TUMBAL KESERAKAHAN

Bab 1: Gerobak Bakwan yang Ajaib

Pak Seno, seorang pedagang bakwan kawi sederhana, dikenal baik di kampungnya. Setiap pagi, ia mendorong gerobaknya yang usang, berhenti di depan sekolah, pasar, atau di ujung gang-gang kecil tempat anak-anak sering berkumpul. Bakwannya terkenal renyah dan gurih, membuat pelanggan setianya selalu kembali.

"Pak Seno! Bakwannya dua, tambah tahu satu, ya!" teriak seorang bocah sambil menyerahkan uang koin.
"Siap, Nak. Tunggu sebentar, ya. Ini bonus cabai buat kamu!" balas Pak Seno sambil tersenyum ramah.

Hidupnya memang pas-pasan, tapi ia tak pernah mengeluh. Namun, dalam hati, ia sering bertanya-tanya apakah hidupnya akan terus seperti ini. Ia ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk istri dan anaknya.

Suatu hari, sesuatu yang aneh terjadi. Setelah pulang dari berjualan, Pak Seno melihat seseorang berdiri di dekat gerobaknya yang diparkir di halaman rumah. Sosok itu berpakaian serba hitam dengan topi lebar yang menutupi wajahnya.

"Permisi, Pak, cari siapa?" tanya Pak Seno, sedikit ragu.
Sosok itu tak menjawab. Ia hanya mengeluarkan kantong kain kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas gerobak Pak Seno.
"Pak, ini apa?" tanyanya lagi, tapi sosok itu sudah menghilang di balik gelap malam.

Pak Seno membuka kantong itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada butiran-butiran kecil berwarna hitam yang mengeluarkan aroma tajam. Ia merasa bingung, tapi entah kenapa, ada dorongan dalam dirinya untuk menyimpan benda itu di gerobaknya.


Seminggu setelah kejadian itu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Bakwan Pak Seno menjadi lebih laris dari biasanya. Pelanggan terus berdatangan, bahkan orang-orang dari kampung sebelah mulai ikut membeli.

"Pak , kok makin banyak yang beli dagangan kita ya? Bakwan kawi kita ada resep baru, kah?" tanya Bu Rina suatu malam saat membantu suaminya membersihkan gerobak.
"Nggak ada yang berubah. Semua masih sama seperti biasa. Mungkin ini rejeki kita," jawab Pak Seno sambil tersenyum.

Dalam waktu singkat, usaha Pak Seno berkembang pesat. Gerobaknya yang kecil diganti dengan gerobak baru yang lebih besar dan dicat biru cerah. Ia juga mempekerjakan dua karyawan untuk membantu memasak dan melayani pelanggan. Tak hanya itu, Pak Seno membeli beberapa gerobak tambahan untuk dijalankan di tempat lain.

Rumahnya yang dulu kecil dan reyot kini berubah menjadi rumah lumayan besar dengan pagar besi tinggi. Kehidupan keluarga Pak Seno terlihat seperti mimpi yang menjadi nyata.

Namun, di balik kesuksesan itu, desas-desus mulai bermunculan di kampung.

"Bu Sari, apa nggak aneh, jualan bakwan kok bisa kaya raya gitu ya?" bisik Bu Tarjo pada suatu sore.
"Iya, aku dengar katanya Mas Seno itu pakai pesugihan. Banyak yang bilang dia harus kasih tumbal segala," jawab Bu Sari dengan nada serius.
"Ih, serem. Aku jadi takut beli bakwannya," sahut Bu Tarjo sambil bergidik.

Gosip itu semakin menyebar. Setiap sudut kampung membicarakan hal yang sama.


Malam itu, setelah semua pekerja pulang, Pak Seno duduk termenung di ruang tamu. Bu Rina, istrinya, mendekatinya dengan wajah gelisah.

"Pak, aku nggak enak. Orang-orang di kampung mulai curiga sama kita," katanya pelan.
"Biarkan saja. Mereka cuma iri. Kita nggak perlu peduli," jawab Pak Seno sambil menghela napas panjang.
"Tapi… aku sering dengar suara-suara aneh di dapur malam-malam. Kamu yakin ini semua nggak ada hubungannya dengan sesuatu yang... nggak wajar?" Bu Rina menatap suaminya dengan cemas.

Pak Seno terdiam, memandang keluar jendela. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Tapi ia tak mau membahasnya dengan istrinya.

"Sudahlah, Bu. Kamu terlalu banyak berpikir. Tidur saja. Besok kita harus bangun pagi," katanya, mencoba mengakhiri pembicaraan.

Namun, saat Bu Rina pergi ke kamar, Pak Seno tetap duduk di ruang tamu. Matanya terpaku pada gerobak biru di halaman, mengingat sosok misterius yang menyerahkan kantong kain itu. Dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya: apakah semua ini benar-benar rejeki, atau ada harga yang harus ia bayar?

Bab 2: Kejanggalan di Dapur

Dani, karyawan baru Pak Seno, merasa ada sesuatu yang aneh sejak hari pertama ia bekerja di rumah itu. Meski suasana kerja terlihat biasa saja di siang hari, ada keheningan malam yang membuat bulu kuduknya meremang. Rumah besar milik Pak Seno, dengan dapur yang luas dan peralatan modern, menyimpan hawa yang terasa ganjil.

Suatu malam, Dani harus lembur di dapur untuk mempersiapkan adonan bakwan untuk hari berikutnya. Lampu dapur yang terang benderang tak mampu mengusir perasaan was-was yang tiba-tiba menyelimutinya.

Saat ia sedang sibuk mengaduk adonan, terdengar suara gemerisik dari pojok ruangan. Dani berhenti sejenak, memandang ke arah suara itu.

"Siapa di sana?" panggilnya dengan suara gemetar.

Tak ada jawaban. Ia mencoba mengabaikannya dan kembali bekerja, tapi suara itu muncul lagi, kali ini lebih keras, seperti sesuatu yang menggesek-gesek lantai. Dani menelan ludah. Ia beranikan diri melangkah mendekati sumber suara.

Ketika ia menoleh ke sudut dapur, ia melihat sesuatu. Bayangan hitam bergerak cepat, melintasi dapur menuju pintu belakang.

"Halo? Ini siapa?" tanya Dani, mencoba terdengar tegar meski tubuhnya bergetar.

Ia mendekati pintu belakang dengan langkah pelan, tapi saat membuka pintu, yang ia temukan hanya angin dingin yang menerpa wajahnya. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.


Keesokan harinya, Dani menceritakan kejadian itu kepada rekan-rekan kerjanya.

"Semalam aku lihat sesuatu di dapur. Bayangan hitam, besar, bergerak cepat," katanya dengan nada serius saat mereka berkumpul di ruang istirahat.
"Ah, palingan tikus besar. Rumah segede ini pasti banyak tikusnya," balas Tono, salah satu karyawan senior, sambil tertawa kecil.
"Tikus? Tikus mana ada yang sebesar itu, Ton. Aku yakin ini bukan tikus biasa," bantah Dani dengan wajah tegang.
"Sudahlah, Dani. Jangan banyak mikir. Mungkin kamu kecapekan. Dapur di malam hari memang suka bikin parno," ujar Tono, mencoba meredakan suasana.

Namun, Dani tak bisa melupakan bayangan itu. Ada sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang membuatnya merasa diawasi setiap kali ia berada di dapur.


Tak lama setelah kejadian itu, salah satu karyawan, Yanti, mulai menunjukkan tanda-tanda sakit. Awalnya, ia hanya terlihat lemas dan sering mengeluh pusing.

"Yanti, kamu kenapa? Kok pucat banget?" tanya Bu Rina suatu pagi saat melihat Yanti duduk lesu di sudut dapur.
"Nggak tahu, Bu. Rasanya badan ini lemas terus. Semalam saya mimpi buruk lagi," jawab Yanti dengan suara lemah.
"Mimpi apa?" tanya Dani penasaran.

Yanti menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ada sosok hitam dengan mata merah menyala. Dia berdiri di ujung tempat tidurku, diam saja, tapi aku merasa sesak, seperti sulit bernapas."

Dani yang mendengar itu langsung teringat bayangan hitam yang ia lihat di dapur. Ia menatap Yanti dengan cemas. "Itu bukan cuma mimpi, Yanti. Aku juga lihat bayangan hitam di dapur malam itu," kata Dani, suaranya bergetar.

Yanti hanya mengangguk pelan, seolah mengiyakan ketakutan Dani.


Beberapa hari kemudian, kondisi Yanti semakin memburuk. Ia sering mengigau, menyebut-nyebut sosok hitam yang terus mengganggunya. Hingga suatu malam, tubuhnya mendadak kejang-kejang sebelum akhirnya ia mengembuskan napas terakhir.

Kabar kematian Yanti menyebar cepat. Para karyawan lain yang semula mencoba mengabaikan kejanggalan di rumah Pak Seno, kini tak bisa lagi menutupi rasa takut mereka.

"Ton, aku nggak mau kerja di sini lagi. Ini udah nggak wajar," bisik Dani pada Tono setelah pemakaman Yanti.
"Aku juga mulai takut, Dani. Tapi kalau kita keluar, mau kerja apa lagi? Cari kerja sekarang susah," balas Tono dengan nada gelisah.

Sementara itu, gosip di kampung semakin liar. Orang-orang mulai membicarakan kematian Yanti sebagai bukti bahwa Pak Seno menggunakan pesugihan.

"Itu pasti tumbalnya. Dengar-dengar, kalau pesugihan nggak kasih tumbal, yang punya pesugihan bakal kena sendiri," kata Bu Sari pada tetangganya.
"Ih, serem! Pokoknya aku jadi nggak mau beli bakwan dari dia," sahut Bu Tarjo sambil bergidik.

Rumah besar Pak Seno yang dulu menjadi kebanggaan kini berubah menjadi sumber ketakutan bagi semua orang. Dani dan para karyawan lainnya hanya bisa berharap mereka tidak menjadi korban berikutnya.

Bab 3: Perjanjian dengan Kegelapan

Malam itu, udara terasa dingin menusuk. Pak Seno duduk di bawah pohon besar di halaman rumahnya, membawa sesajen berupa bunga, kemenyan, dan mangkuk berisi darah ayam. Sinar bulan yang temaram menyoroti wajahnya yang penuh kegelisahan. Dengan tangan gemetar, ia mulai menaburkan bunga di sekitar pohon sambil menggumamkan doa-doa dengan nada yang nyaris tak terdengar.

"Aku sudah memenuhi permintaan kalian. Sudah cukup. Jangan ambil lebih banyak lagi," bisiknya dengan suara serak.

Angin tiba-tiba berhembus kencang, membawa aroma busuk yang menusuk hidung. Dari kegelapan di balik pohon, muncul suara berat dan serak yang membuat jantung Pak Seno berdebar kencang.

"Tumbal berikutnya harus segera diberikan. Jika tidak, kamu dan keluargamu yang akan kami ambil," suara itu bergema di telinganya, seolah datang dari segala arah.

Pak Seno menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Tidak… tolong, beri aku waktu. Aku tidak bisa kehilangan lebih banyak orang," katanya memohon.

Namun, suara itu tertawa pelan, tawa yang dingin dan mengerikan. "Kesepakatan sudah dibuat, manusia. Keserakahanmu telah mengikatmu pada kami. Ingat, kami selalu mengawasi."

Pak Seno menunduk, tak mampu membalas. Dengan langkah gontai, ia kembali ke rumah, meninggalkan aroma kemenyan yang samar-samar masih tercium.


Ketika Pak Seno membuka pintu rumah, Bu Rina sedang duduk di ruang tamu dengan wajah tegang. Matanya tajam menatap suaminya.

"Kamu dari mana, Pak? Aku lihat kamu lagi di bawah pohon itu," tanya Bu Rina dengan nada curiga.
"Sudah, nggak usah tanya-tanya. Tidur saja, besok pagi kamu harus bangun lebih awal," jawab Pak Seno cepat sambil menghindari tatapan istrinya.

Bu Rina tidak puas dengan jawaban itu. "Aku tahu ada yang nggak beres. Kamu akhir-akhir ini sering keluar malam. Jangan-jangan… ini ada hubungannya dengan semua gosip yang beredar di kampung?" desaknya.

Pak Seno membanting pintu kamar tanpa menjawab. "Tidur saja, Rina! Aku capek," teriaknya dari balik pintu.

Bu Rina duduk diam, menatap ke arah kamar dengan perasaan bercampur aduk. Ada sesuatu yang tidak diceritakan suaminya, dan ia mulai takut bahwa gosip kampung mungkin ada benarnya.


Sementara itu, Dani, salah satu karyawan, juga semakin dihantui rasa takut. Malam itu, ia melihat Pak Seno membawa sesuatu yang dibungkus kain merah menuju pohon besar. Keingintahuannya membuatnya memberanikan diri mengintip dari jauh.

"Apa yang sebenarnya dia lakukan?" bisik Dani pada dirinya sendiri. Ia melihat Pak Seno menunduk sambil melafalkan sesuatu, lalu menaruh bungkusan itu di bawah pohon. Setelah itu, angin tiba-tiba berhembus kencang, membuat daun-daun kering beterbangan. Dani mundur perlahan, takut ketahuan.

Keesokan harinya, Dani bercerita kepada Tono.

"Ton, aku yakin banget Pak Seno ada main dengan sesuatu yang nggak beres. Semalam aku lihat dia bawa sesajen ke pohon besar di halaman," kata Dani dengan nada serius.
"Sesajen? Kamu serius?" Tono mencoba memastikan.
"Iya. Ini makin nggak wajar. Yanti meninggal, terus malam-malam dia kayak orang ngomong sendiri di pohon. Aku nggak mau jadi korban berikutnya," ucap Dani dengan wajah pucat.

Tono terdiam. Ia mulai merasa bahwa pekerjaan ini tidak layak untuk dipertahankan, meski bayarannya cukup besar.


Di malam yang sama, ketika Pak Seno masuk ke kamar dengan berteriak, Bu Rina langsung menyusulnya dan dengan sabar mencoba bertanya lagi. "Pak, apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar malam-malam? Jangan bohong lagi!"

Pak Seno menghela napas panjang. Ia duduk di tepi tempat tidur, menunduk, dan akhirnya berkata dengan nada lemah, "Aku hanya ingin kita keluar dari kemiskinan. Semua yang kulakukan ini untuk keluarga."

"Tapi kenapa harus seperti ini? Aku dengar orang-orang bilang tentang pesugihan. Apa itu benar, Pak?" Bu Rina mendesak, air matanya mulai menetes.

Pak Seno hanya diam, lalu beranjak pergi ke ruang tamu. Ia tahu, pengakuannya hanya akan membuat istrinya semakin takut. Di dalam hatinya, ia menyesal telah memulai semua ini, tetapi ia juga tahu bahwa sekarang ia sudah terjebak terlalu dalam.

Malam itu, ia duduk di ruang tamu, menatap rumah besarnya yang kini terasa seperti penjara. Di luar, bayangan hitam melintas cepat di halaman, seperti sedang menunggu giliran untuk mengambil tumbal berikutnya.

Bab 4: Tumbal Terakhir

Rumah besar Pak Seno kini terasa sunyi dan mencekam. Akhirnya setelah beberapa minggu kematian Yanti, semua karyawan memutuskan untuk berhenti bekerja. Tidak ada yang berani lagi mendekati rumah itu. Suara-suara aneh, bayangan hitam, dan hawa dingin yang menyelimuti tempat itu membuat para tetangga semakin yakin bahwa rumah itu telah menjadi sarang makhluk gaib.

Di dapur yang kini kosong, alat-alat masak berdebu dan gerobak-gerobak besar hanya teronggok tak terpakai. Pak Seno, yang dulunya sibuk melayani pelanggan, kini menghabiskan harinya dalam keheningan. Pendapatannya menurun drastis. Namun, yang membuatnya lebih takut adalah ancaman makhluk gaib yang selalu terngiang di telinganya: tumbal berikutnya harus segera diserahkan.


Suatu malam, Bu Rina terbangun oleh suara lirih dari kamar anak mereka, Wati. Ia membuka mata, tubuhnya merinding karena mendengar suara seperti bisikan, namun tidak jelas dari mana asalnya. Dengan gemetar, ia menyentuh lengan Pak Seno yang terbaring di sebelahnya.

"Pak, bangun. Ada suara dari kamar Wati," bisiknya panik.

Pak Seno, yang sudah kelelahan dengan semua beban pikirannya, hanya bergumam. "Sudah tidur saja, Rin. Itu mungkin hanya angin."

"Tidak, Pak. Suaranya seperti ada orang yang berbicara," desak Bu Rina.

Pak Seno menghela napas dan bangun dengan enggan. Mereka berdua berjalan menuju kamar Wati. Saat membuka pintu, mereka melihat putri mereka tertidur pulas. Namun, ada sesuatu yang aneh di sudut kamar.

Bu Rina menunjuk dengan wajah pucat. "Pak… itu… bayangan apa di pojok sana?"

Pak Seno melihat ke arah yang ditunjuk istrinya. Sebuah bayangan hitam besar tampak diam di sana, matanya merah menyala, menatap mereka tanpa berkedip.

"Keluar dari rumahku!" teriak Pak Seno sambil meraih benda apa saja yang bisa ia gunakan untuk mengusir sosok itu.

Namun, makhluk itu tidak bergerak. Sebaliknya, suara serak yang dingin memenuhi ruangan. "Waktumu telah habis, manusia. Tumbal harus diberikan."

Pak Seno mencoba melawan rasa takutnya. "Ambil aku saja! Jangan ambil mereka! Ini semua salahku!"

Makhluk itu tertawa dingin. "Keserakahanmu tak bisa ditebus hanya dengan pengorbananmu sendiri. Semuanya akan kami ambil, satu per satu." Setelah berkata itu, makhluk itu menghilang, lenyap seketika.


Di tengah malam hari berikutnya yang gelap, suara jeritan menggema dari kamar Wati. Pak Seno dan Bu Rina terbangun dengan terkejut dan langsung berlari ke kamar anak mereka. Ketika pintu terbuka, pemandangan yang mereka lihat membuat Bu Rina jatuh pingsan.

Wati terbaring di tempat tidurnya dengan wajah pucat, tubuhnya kaku tak bernyawa. Di lantai, Bu Rina tersungkur setelah kehilangan kesadaran. Pak Seno terhuyung mendekati tubuh anaknya.

"Tidak… tidak… ini tidak mungkin. Ambil aku saja! Jangan ambil anakku!" teriak Pak Seno histeris, memeluk tubuh kecil putrinya yang dingin.

Namun, suara dingin itu kembali terdengar, memenuhi seluruh ruangan. "Perjanjian adalah perjanjian, manusia. Keserakahanmu adalah kutukan bagi keluargamu. Ini baru permulaan."

Pak Seno terjatuh ke lantai, menangis tersedu-sedu. Dalam keputusasaan, ia melihat ke arah jendela. Bayangan hitam itu perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang menusuk.


Keesokan harinya, kabar kematian Wati menyebar ke seluruh kampung. Para tetangga hanya bisa bergunjing dari jauh, tak ada yang berani mendekati rumah itu. Bu Rina masih terbaring tak sadarkan diri, sementara Pak Seno duduk di depan pohon besar di halaman rumahnya.


Bab 5: Penebusan Dosa

Malam itu, Pak Seno duduk di ruang tamu rumahnya yang terasa semakin sunyi. Bayangan wajah anaknya, Wati, terus menghantui pikirannya. Ia sadar bahwa keserakahannya telah membawa kehancuran bagi keluarganya. Di tangannya tergenggam sebuah kalung emas kecil—benda terakhir yang ia dapatkan dari makhluk gaib sebagai simbol perjanjian mereka.

Dengan tekad bulat, ia melangkah keluar rumah menuju pohon besar di halaman. Udara malam terasa menusuk, membuat bulu kuduknya berdiri. Di bawah pohon itu, ia telah menyiapkan tumpukan barang-barang yang ia terima selama perjanjian: sesajen, perhiasan, dan benda-benda lainnya yang menjadi bukti dari kejahatan batinnya.


Saat ia menyalakan api di atas barang-barang tersebut, suara berat dan serak kembali terdengar dari kegelapan. "Apa yang kau lakukan, manusia?"

Pak Seno berdiri dengan gemetar, namun ia memberanikan diri untuk menjawab. "Aku menghentikan semuanya. Ambil kembali kekayaanmu. Aku tidak butuh apa-apa lagi. Aku hanya ingin keluargaku bebas!"

Bayangan hitam muncul perlahan dari balik pohon. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Pak Seno. "Kamu pikir semudah itu keluar dari perjanjian ini? Semua yang kamu nikmati telah kami beri. Harga yang harus dibayar adalah nyawamu."

Pak Seno menatap makhluk itu dengan mata berkaca-kaca. "Ambil saja nyawaku. Aku tidak peduli. Tapi lepaskan istriku. Biarkan dia hidup tenang. Jangan ganggu dia lagi."

Makhluk itu tertawa dingin. "Manusia memang lemah. Selalu menyesal di akhir. Baiklah, kami akan menerima pengorbananmu. Tapi ingat, bekas dosa ini tidak akan pernah hilang."

Angin kencang tiba-tiba berhembus, membuat api semakin membesar. Di dalam api, Pak Seno melihat bayangan Wati tersenyum kepadanya, membuat hatinya sedikit tenang.


Keesokan paginya, Bu Rina menemukan suaminya tergeletak di bawah pohon besar itu. Tubuhnya sudah dingin, namun di wajahnya ada ekspresi damai yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Dengan bantuan para tetangga, Bu Rina menguburkan Pak Seno di pemakaman kampung. Meski penuh dengan rasa kehilangan, ia merasa ada beban besar yang hilang dari kehidupannya.


Beberapa bulan setelah kepergian Pak Seno, Bu Rina memutuskan untuk menjual rumah besar mereka. Ia pindah ke rumah kecil di pinggir kampung dan melanjutkan usaha bakwan kawi milik suaminya. Kini, ia berjualan lagi dengan menggunakan gerobak kecil yang pernah menjadi saksi perjuangan awal mereka.

Suatu pagi, seorang tetangga, Pak Tarman, mampir ke gerobak Bu Rina. "Bu, aku salut. Setelah semua yang terjadi, Ibu masih mau jualan begini."

Bu Rina tersenyum kecil. "Harta itu tidak ada artinya, Pak. Kalau hidup kita penuh dengan dosa, semua itu cuma beban. Sekarang, aku cuma mau hidup sederhana dan tenang."

Tetangga-tetangga mulai sering membantu Bu Rina. Mereka tahu kisah keluarganya dan ikut merasa lega bahwa kengerian yang selama ini menghantui kampung itu telah berakhir.


Setahun kemudian, rumah megah itu akhirnya tetap dibiarkan kosong oleh pemilik barunya, menjadi sarang bagi kisah-kisah seram yang diceritakan dari generasi ke generasi. Dan pohon besar di halaman rumah itu tetap berdiri, menjadi saksi bisu dari keserakahan manusia yang membawa kehancuran.

Di bawah pohon besar di halaman rumah lama Pak Seno, anak-anak kampung sering bermain tanpa rasa takut. Pohon itu tetap berdiri kokoh, namun kini hanya menjadi saksi bisu dari kisah tragis seorang pedagang yang terlena oleh keserakahan.

Bu Rina tetap berjualan bakwan kawi setiap pagi. Di gerobaknya, ia menggantung sebuah tulisan kecil yang sering menarik perhatian pelanggan:

"Harta bisa dicari, tapi keluarga tidak. Jangan pernah mengorbankan cinta demi kekayaan."

Pesannya menyebar, menjadi pelajaran bagi orang-orang di kampung itu. 

-- TAMAT -- 

Buat teman-teman yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya..

#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#31 PERJALANAN MALAM NAIK BUS HANTU 👀

#39 RONDA MALAM YANG HOROR 👀

#70 CERITA HOROR SUNDEL BOLONG