Cerita Horor #11 PENJUAL BAKSO DAN GANG ANGKER

Perjalanan Horor Penjual Bakso di Gang Angker
 

Joko baru saja tiba di Jakarta dengan harapan besar. Setelah bertahun-tahun membantu ayahnya di desa membuat bakso, ia memutuskan untuk merantau ke ibu kota. “Jakarta itu kota dengan sejuta peluang,” kata tetangganya ketika Joko berpamitan.

Namun, di balik harapan itu, Joko tidak bisa menghilangkan perasaan ragu yang menghantuinya. Bagaimana kalau dia tidak berhasil? Bagaimana kalau baksonya tidak laku?
Setelah beberapa hari di Jakarta, Joko akhirnya menemukan gerobak bekas yang dijual dengan harga terjangkau.

Penjualnya, seorang pria tua yang ramah, memberikan semangat padanya. “Semoga sukses, Nak. Usaha di sini memang keras, tapi kalau kamu tekun, rezeki pasti ada,” ucap pria itu sambil menyerahkan kunci gerobak. Joko hanya tersenyum dan mengangguk, meski hatinya penuh kegelisahan.

Malam pertama Joko berjualan bakso berjalan dengan lancar. Ia berkeliling di sekitar kawasan perumahan yang ramai. “Bang, bakso dua porsi, nggak pedas ya!” teriak seorang ibu muda yang sedang membawa anak kecil.

Joko dengan cekatan menyiapkan pesanan itu, sambil sesekali melirik sekitar, memastikan tidak ada yang terlewat.
“Enak, Bang! Rasa baksonya kaya di kampung,” ucap seorang pria paruh baya yang baru saja selesai makan. Joko tersenyum lebar, hatinya sedikit lega.

Mungkin, pikirnya, nasib baik memang ada di Jakarta. Namun, di balik senyumnya, ada perasaan aneh yang mulai menggelayut di benaknya. Setiap malam, saat ia pulang larut, Joko merasa ada yang mengawasinya dari kegelapan.

Jalanan Jakarta yang ramai di siang hari, berubah menjadi sepi dan mencekam di malam hari.

Seminggu setelah berjualan, Joko mulai merasa lebih percaya diri. Ia memutuskan untuk memperluas area jualannya. Setelah mendengar dari sesama pedagang bahwa ada beberapa gang kecil yang jarang dijamah pedagang lain, ia berpikir mungkin bisa mencoba peruntungannya di sana.

Meski merasa sedikit ragu, ia tetap bertekad mencobanya.
Pada malam itu, setelah selesai berjualan di area biasa, Joko menuju gang yang sepi dan gelap. Saat memasuki gang tersebut, ia merasakan hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya.

“Kenapa suasananya begini ya?” gumamnya sambil terus mendorong gerobak. Gang itu hanya diterangi oleh beberapa lampu jalan yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang meliuk-liuk di dinding.

Ketika Joko sudah hampir mencapai ujung gang, tiba-tiba ia mendengar suara lemah di belakangnya. “Bang, bakso satu,” suara seorang perempuan terdengar, namun suaranya begitu pelan seolah dibawa angin.

Joko menoleh dan melihat seorang perempuan muda berdiri di ujung gang, hanya beberapa meter darinya. Perempuan itu tampak aneh; wajahnya tertutup bayangan, rambut panjangnya tergerai acak-acakan, dan pakaiannya terlihat lusuh.

Dengan sedikit ragu, Joko berusaha bersikap biasa saja. “Baksonya pedas nggak, Mbak?” tanyanya, sambil memulai persiapan di gerobaknya. Perempuan itu hanya menggeleng pelan, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Joko mulai memasak bakso, namun perasaannya semakin tidak nyaman.

Saat Joko menyerahkan mangkuk bakso kepada perempuan itu, ia merasakan dingin yang luar biasa di tangannya. “Besok malam datang lagi, ya Bang,” ucap perempuan itu dengan senyuman yang membuat Joko merinding. Ia mengambil bakso itu, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan.

Joko berdiri diam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, sebelum akhirnya memutuskan untuk segera pulang.

Keesokan harinya, Joko tidak bisa menghilangkan bayangan perempuan misterius itu dari pikirannya. Ada sesuatu yang aneh pada perempuan itu—cara bicaranya, dinginnya tangan, dan suasana gang yang mencekam.

Namun, Joko meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya perasaannya saja. “Mungkin aku terlalu lelah,” pikirnya sambil menyiapkan gerobak untuk berjualan malam itu.

Malam itu, setelah melayani beberapa pelanggan di area biasa, Joko merasa terdorong untuk kembali ke gang misterius itu. Meskipun hatinya penuh keraguan, rasa ingin tahu yang kuat membuatnya mengambil risiko.

Ketika ia mencapai gang tersebut, suasana terasa lebih mencekam daripada sebelumnya. Angin berhembus lebih kencang, dan daun-daun kering berterbangan di sekelilingnya.
Saat Joko memasuki gang itu, ia menunggu dengan perasaan was-was.

Tidak lama kemudian, perempuan yang sama muncul dari balik bayangan. Wajahnya terlihat lebih jelas di bawah sinar bulan yang redup. Kulitnya pucat, dan matanya tampak kosong, seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.

“Bakso lagi, Bang,” ucap perempuan itu dengan suara yang sama seperti malam sebelumnya. Joko, yang sudah merasa sangat gelisah, tetap berusaha bersikap profesional. Ia mulai memasak bakso dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha tetap tenang.

Namun, semakin lama ia berada di sana, semakin kuat perasaan tidak nyaman yang merasukinya.
“Kenapa Mbak selalu makan di sini?” tanya Joko dengan suara bergetar, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang perempuan itu.

“Di sini sepi, aku suka,” jawab perempuan itu dengan senyuman yang membuat Joko semakin merasa ada yang tidak beres. Setelah bakso selesai disiapkan, perempuan itu mengambil mangkuk tanpa berkata apa-apa lagi.

Saat ia membayar, Joko merasakan dingin yang sama seperti malam sebelumnya. “Besok malam datang lagi, ya,” ucap perempuan itu sebelum menghilang ke dalam kegelapan.

Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Wajah perempuan itu terus terbayang-bayang di pikirannya. “Apa sebenarnya yang terjadi?” gumamnya berulang kali, mencoba mencari jawaban di tengah ketakutannya.

Malam ketiga tiba, dan meskipun diliputi rasa takut, Joko kembali datang ke gang yang sama. Ia merasa ada sesuatu yang harus ia temukan, meskipun hatinya penuh dengan perasaan cemas. Gang itu kembali gelap dan sunyi, dengan kabut tipis yang mulai turun, menambah suasana mencekam.

Saat Joko berjalan lebih dalam ke gang itu, ia merasakan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat. Tiba-tiba, di sudut matanya, ia melihat sesuatu yang bergerak. Joko berhenti, mencoba menajamkan penglihatannya.

Ketika ia memutar tubuhnya, sebuah sosok putih melayang-layang di kejauhan. Sosok itu tertutup kain kafan lusuh, dengan wajah yang tidak terlihat jelas karena tertutup kain. Sosok itu adalah pocong.
“Ya Tuhan, apa ini?” seru Joko dalam hati, merasa darahnya membeku.

Pocong itu terus mendekat tanpa suara, dan Joko merasa kakinya terpaku di tanah. “Kenapa aku nggak bisa lari?” pikirnya dengan panik.
Saat pocong itu semakin mendekat, Joko mendengar suara perempuan misterius itu lagi.

“Besok malam datang lagi, ya,” suaranya terdengar lebih dingin dan mengerikan. Dengan penuh ketakutan, Joko melihat perempuan itu berdiri di belakangnya, dengan senyum yang lebar dan menakutkan.
“Siapa kamu sebenarnya?!” teriak Joko, suaranya bergetar.

Namun, perempuan itu hanya tertawa pelan, tawa yang membuat bulu kuduk Joko berdiri.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Joko berusaha melarikan diri. Ia meninggalkan gerobaknya dan lari sekencang mungkin, meninggalkan gang itu dan semua yang ada di dalamnya.

Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Ia merasa seolah-olah berada dalam mimpi buruk yang nyata.

Hari berikutnya, meski hatinya penuh ketakutan, Joko tidak ingin menyerah begitu saja. Ia memutuskan untuk berjualan di rute yang berbeda, berusaha menghindari gang misterius itu.

"PENJUAL BAKSO DAN GANG ANGKER" 

Namun, malam itu, meskipun sudah mencoba menjauh, Joko tanpa sadar kembali menemukan dirinya di dekat gang yang sama.
“Aku nggak boleh ke sini lagi,” pikirnya, namun langkah kakinya seolah memiliki keinginan sendiri.

Ketika ia kembali memasuki gang itu, perasaan takut yang luar biasa menyelimutinya. Suara tawa pelan terdengar dari belakangnya, membuat Joko merinding. Ketika ia berbalik, ia melihat perempuan yang sama, tetapi kali ini wajahnya terlihat lebih jelas.

Perempuan itu bukan lagi manusia. Kulitnya pucat, matanya merah seperti terbakar, dan mulutnya menyeringai lebar dengan tawa yang mengerikan. Rambut panjangnya yang hitam legam terurai, seolah ingin menyelimuti Joko dalam kegelapan abadi.

Pocong itu berdiri di sampingnya, seolah menunggu perintah.
Joko merasa tubuhnya semakin kaku, tak bisa bergerak. “Kenapa kamu terus mengikutiku?!” teriak Joko dengan ketakutan. Namun, perempuan itu hanya tertawa, semakin mendekat dengan gerakan yang menyerupai bayangan.

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Joko berusaha untuk lari. Ia menutup matanya, berharap ini semua hanya mimpi buruk. Ketika ia membuka matanya lagi, ia menemukan dirinya berada di tempat yang gelap dan asing.

Gerobaknya terbalik, dengan bakso yang berserakan di tanah, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Hanya ada kegelapan yang pekat, seolah menelannya.
Keesokan harinya, penduduk menemukan gerobak Joko yang kosong, dengan mangkuk bakso yang masih utuh namun dingin.

Joko tidak pernah kembali ke gang itu. Ia pulang ke kampung halamannya, meninggalkan kenangan mencekam di kota yang tidak akan pernah ia lupakan.

-- TAMAT -- 

Buat teman-teman yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya..

#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#31 PERJALANAN MALAM NAIK BUS HANTU 👀

#39 RONDA MALAM YANG HOROR 👀

#70 CERITA HOROR SUNDEL BOLONG