#47 KAMPUNG POCONG
Kampung pocong.
Handoko
adalah potret pekerja keras di Desa Tepi. Setiap malam, tak peduli hujan atau
badai, ia menaiki mobil pikap tuanya yang setia, mengangkut berkarung-karung
sayuran segar hasil panen petani lokal. Tujuannya satu: Pasar Sayur Induk di
kota kecamatan, tempat ia akan menjajakan dagangannya hingga subuh menjelang.
Rutinitas itu sudah ia lakoni selama tiga tahun terakhir, sebuah jalur yang
sudah hapal di luar kepala. Jalanan hutan yang sepi dan gelap menjadi pemandangan
biasa baginya, tak pernah ada kejadian aneh, tak pernah ada gangguan. Hanya
suara mesin mobil dan desiran angin malam yang menjadi teman setianya.
Namun,
malam ini berbeda. Sejak sore, perasaan Handoko sudah tidak enak. Hawa dingin
yang menusuk, aroma tanah basah bercampur melati yang samar, dan suara burung
hantu yang terus bersahutan, seolah menjadi pertanda. Ia mencoba menepisnya,
menganggapnya hanya kelelahan biasa. Tapi, saat pikap tuanya memasuki jalanan
hutan yang gelap, Handoko menyadari bahwa malam ini, ia tidak sendirian. Ia
akan dibawa ke sebuah tempat yang seharusnya tidak pernah ada, sebuah
perkampungan yang hanya dihuni oleh mereka yang telah tiada, sebuah kampung
pocong yang menanti jiwa-jiwa tersesat.
Malam
itu, pukul sebelas tepat, Handoko memanaskan mesin pikap tuanya. Karung-karung
berisi bayam, kangkung, wortel, dan cabai sudah tertata rapi di bak belakang.
Aroma sayuran segar memenuhi udara, berpadu dengan bau bensin dan oli mesin.
Istrinya, Bu Siti, mengantar sampai depan pintu, dengan raut wajah khawatir
yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Hati-hati
Pak," pesan Bu Siti, suaranya pelan. "Perasaanku tidak enak malam
ini. Bawa doa yang banyak ya."
Handoko
tersenyum, mencoba menenangkan istrinya. "Sudah biasa Bu. Jangan khawatir.
Ini sudah jadi jalan rezekiku. Nanti pulang bawa uang banyak."
Ia
melambaikan tangan, lalu menginjak pedal gas. Pikap tua itu melaju perlahan,
meninggalkan keramaian kampung, menuju jalanan sepi yang akan mengantarnya ke
jalan hutan. Udara malam terasa dingin, namun Handoko sudah terbiasa. Jendela
mobil ia buka sedikit, membiarkan angin malam menerpa wajahnya.
Ketika
mobilnya memasuki jalan hutan, suasana langsung berubah. Pohon-pohon besar dan
rapat di sisi kanan dan kiri jalan membentuk terowongan gelap, hanya diterangi
oleh lampu sorot pikapnya. Suara jangkrik bersahutan, menciptakan irama monoton
yang menenangkan. Handoko menyetel radio, mencari siaran dangdut kesukaannya.
Namun,
beberapa menit kemudian, ia menyadari ada yang aneh. Jalanan yang seharusnya
lurus dan familier, kini terasa asing. Beberapa pohon yang biasanya menjadi
penanda, seperti pohon beringin kembar atau pohon randu besar, tidak terlihat
di tempatnya. Aspal jalanan juga terasa lebih kasar, seolah ia melewati jalan
yang berbeda.
"Aneh,"
gumam Handoko pada dirinya sendiri. "Perasaan aku lewat sini setiap
malam."
Ia
mencoba menepis pikiran itu, menganggapnya hanya kelelahan. Ia terus mengemudi.
Namun, semakin ia melaju, semakin ia merasa bingung. Jalanan itu terus berbelok
dan berputar-putar, seolah tidak ada ujungnya. Beberapa kali, ia merasa
melewati pohon yang sama, dengan ranting yang tumbuh melintang atau bekas
goresan di batangnya.
Bau tanah basah yang sangat pekat
tiba-tiba menyeruak, bercampur dengan aroma melati yang dingin dan menusuk. Bau
itu begitu kuat hingga membuat Handoko mengernyitkan dahi. Ia melihat ke luar
jendela. Tidak ada genangan air, tidak ada tanda-tanda hujan baru. Tapi bau itu
terus menyengat.
Kemudian,
ia mendengar bisikan-bisikan lirih dari balik pepohonan, samar-samar
namun terdengar jelas, seperti suara kerumunan orang yang berbicara dalam
bahasa yang tidak ia mengerti. Bisikan itu terdengar seperti desisan, membuat
bulu kuduknya merinding.
"Siapa
di sana?" teriak Handoko, mencoba mencari sumber suara. Ia menyorotkan
lampu senter ke arah pepohonan, namun tidak ada apa-apa, hanya kegelapan dan
bayangan yang menari.
Handoko
mempercepat laju mobilnya. Ia mencoba mencari jalan keluar dari hutan yang
terasa seperti labirin ini. Ia yakin, ia sudah tersesat. Padahal, ia sudah
hafal jalan ini di luar kepala. Ini bukan hal yang wajar. Jantungnya berdebar
kencang, perasaan tidak enak yang dirasakan istrinya mulai terasa nyata.
Tiba-tiba,
lampu depan pikapnya menyorot sesuatu di tengah jalan. Sebuah nisan tua yang
ditumbuhi lumut, persis di tengah jalan, seperti penanda jalan yang tidak
seharusnya ada. Handoko sontak menginjak rem, mobilnya berhenti mendadak. Ia
menatap nisan itu dengan ngeri. Bagaimana bisa ada nisan di tengah jalan
seperti ini?
Dari
balik nisan itu, ia melihatnya. Sosok putih yang samar-samar, seperti
bayangan yang melayang. Handoko merasakan hawa dingin yang menusuk. Ia tahu, ia
telah masuk ke dalam sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar tersesat.
Nisan
di tengah jalan itu membuat Handoko merinding. Ia memundurkan pikapnya
perlahan, mencoba berbalik arah. Namun, setiap kali ia mencoba berbelok, setir
mobilnya terasa berat, seperti ada yang menahannya. Lampu depan pikapnya juga
mulai berkedip-kedip, seolah kekurangan daya, meskipun mesinnya masih menyala.
Bau
tanah basah bercampur melati semakin kuat, memenuhi kabin mobil.
Bisikan-bisikan lirih dari pepohonan semakin jelas, kini terdengar seperti
paduan suara yang tidak beraturan, namun ada nada memanggil yang aneh.
"Apa
yang terjadi ini?" gumam Handoko, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Ia mencoba menyalakan lampu jauh, namun cahaya yang keluar redup, tak mampu
menembus pekatnya kegelapan di sekelilingnya.
Tiba-tiba,
dari arah depan, muncul sebuah kabut tebal yang aneh. Kabut itu tidak
seperti kabut biasa, melainkan berwarna sedikit keunguan dan bergerak sangat
cepat, menyelimuti seluruh jalanan di depannya. Handoko tak bisa melihat
apa-apa.
Ia
menginjak rem lagi, panik. Ia tidak berani melaju dalam kabut setebal itu.
Namun, ia merasakan ada kekuatan tak terlihat yang mendorong mobilnya maju.
Pikapnya bergerak perlahan, menembus kabut.
Saat
mobilnya menembus kabut, Handoko melihatnya. Sebuah pemandangan yang membuat
jantungnya berhenti berdetak. Kabut itu seolah menjadi sebuah gerbang tak
terlihat yang membawanya ke dimensi lain. Di depan matanya, terhampar
sebuah perkampungan tua yang sepi dan gelap. Rumah-rumah di sana terbuat
dari kayu lapuk, dengan atap yang bocor dan jendela-jendela yang pecah. Tidak
ada lampu, tidak ada suara kehidupan. Hanya keheningan yang mencekam.
Handoko
tahu, ini bukan kampung yang pernah ia kenal. Ini adalah kampung misterius yang
belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan yang paling mengerikan, di tengah kampung
itu, ia melihat puluhan nisan batu yang berserakan, seperti kuburan
massal.
Bau
kemenyan yang sangat pekat tiba-tiba menyeruak, bercampur dengan aroma
melati dan bau anyir yang samar. Handoko merasakan hawa dingin yang menusuk
hingga ke tulang sumsum. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di
tenggorokan.
Tiba-tiba,
dari balik rumah-rumah lapuk, muncul sosok-sosok putih yang berloncatan.
Jumlahnya puluhan, bergerak perlahan, mendekat ke arah pikapnya. Mereka semua
adalah pocong. Kain putihnya kusam dan kotor, dengan ikatan tali di
kepala, leher, dan kakinya. Wajah mereka tidak terlihat jelas karena tertutup
kain, namun dua lubang mata yang gelap dan kosong menatap langsung ke arah
pikap Handoko.
Pocong-pocong
itu tidak berteriak, mereka hanya bergerak mendekat dengan cara
melompat-lompat, menciptakan suara gedebuk... gedebuk... yang mengerikan
di keheningan malam. Beberapa dari mereka berhenti tepat di depan pikap
Handoko, menatapnya tanpa ekspresi.
Handoko
memejamkan mata erat-erat, ia mencoba membaca doa-doa yang ia tahu, namun
otaknya terasa kosong. Ia merasa terjebak, terperangkap di antara puluhan
pocong itu. Ia tahu, ia telah memasuki "Kampung Pocong".
Tiba-tiba,
salah satu pocong yang paling dekat dengan mobilnya, menempelkan wajahnya ke
kaca jendela pengemudi. Wajahnya yang terbalut kain putih, dengan mata kosong
yang gelap, menatap Handoko. Dari balik kain kafan, ia mendengar bisikan serak
dan dingin: "Datanglah... bergabunglah... kamu tersesat..."
Handoko
berteriak histeris. Ia menginjak pedal gas sekuat tenaga, memutar setir,
mencoba melarikan diri. Pikapnya meraung, mencoba bergerak maju. Namun, ia
merasa ada tangan-tangan tak terlihat yang menahan mobilnya. Pocong-pocong itu
mengelilingi mobilnya, menghalangi setiap jalan keluar. Handoko tahu, ia tidak
bisa lari.
Pikap
Handoko terhenti di tengah "Kampung Pocong". Mesinnya meraung, namun
ban belakangnya terasa berat, seperti ada yang menahannya. Pocong-pocong itu
mengelilingi mobilnya, jumlahnya tak terhitung, berjejer rapi mengelilingi
pikapnya, membatasi pandangan Handoko. Mereka hanya berdiri diam, menatapnya
dengan tatapan kosong yang menusuk. Bau anyir dan melati busuk semakin kuat,
membuat kepala Handoko pening.
Handoko
mencoba berteriak, memanggil nama Tuhan, namun suaranya tercekat di
tenggorokan. Ia mencoba menyalakan klakson, namun suara yang keluar hanya
lengkingan lemah yang tak berdaya. Ia merasa sangat putus asa.
Tiba-tiba,
ia mendengar suara tangisan anak kecil yang sangat pilu dari arah bak
belakang pikapnya. Suara itu terdengar sangat dekat, seolah ada anak kecil yang
menangis di antara karung-karung sayuran. Jantung Handoko langsung berdebar. Ia
menoleh ke belakang, namun hanya melihat kegelapan dan tumpukan sayuran.
"Siapa
itu?" bisik Handoko, suaranya bergetar.
Tangisan
itu mereda, lalu digantikan oleh tawa cekikikan anak kecil yang
melengking, terdengar begitu dingin dan menyeramkan. Tawa itu seolah
mengejeknya, mengelilinginya. Handoko merinding. Ia tahu, ia tidak membawa anak
kecil di bak belakang mobilnya.
Salah
satu pocong yang berada di sisi pengemudi, yang paling dekat dengannya,
perlahan mengulurkan tangannya yang terbalut kain kafan, menunjuk ke arah bak
belakang pikapnya. Dari balik kain kafan, ia mendengar bisikan serak dan
dingin: "Dia... ingin bermain... denganku..."
Darah
Handoko berdesir dingin. Ia tahu, pocong itu menunjukkan bahwa anak kecil yang
tertawa itu adalah bagian dari mereka. Ia merasa takut, sangat takut.
Ia
memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir bayangan mengerikan itu. Namun,
bisikan-bisikan itu semakin kuat, kini terdengar seperti paduan suara yang
menggema di seluruh kampung: "Tersesat... kesepian... kami
menunggumu..."
Malam
itu terasa sangat panjang. Handoko tidak tahu berapa lama ia terperangkap di
sana. Ia hanya meringkuk di dalam mobilnya, memejamkan mata, berharap semua ini
hanyalah mimpi buruk. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, dan sesekali, ia
merasa ada sentuhan dingin yang merayap di kaca jendela, seolah ada yang
mencoba masuk. Ia juga mendengar suara ketukan-ketukan pelan dari atap mobil,
seperti ada yang berjalan di atasnya.
Ia
tidak tahu bagaimana caranya keluar dari kampung ini. Ia hanya bisa pasrah,
menunggu pagi datang, berharap cahaya matahari bisa mengusir mereka.
Setelah
malam yang terasa seperti keabadian, Handoko merasakan sedikit kehangatan di
wajahnya. Ia perlahan membuka mata. Cahaya redup keemasan mulai menyelinap dari
ufuk timur, memecah kegelapan. Ia melihat ke sekeliling.
Pocong-pocong
yang tadi mengelilingi mobilnya kini sudah tidak ada. Kampung tua itu masih
ada, namun tampak lebih samar, seperti bayangan yang perlahan memudar. Aroma
anyir dan melati busuk pun sudah menghilang, digantikan oleh aroma embun pagi
yang segar.
Dengan
tangan gemetar, Handoko mencoba menghidupkan mesin mobilnya lagi. Kali ini,
mesinnya menyala tanpa masalah. Ia menginjak pedal gas. Pikap tuanya bergerak
maju perlahan, melewati rumah-rumah lapuk yang kini tampak semakin transparan.
Ia melihat nisan-nisan di tengah kampung itu, namun kini terlihat seperti
gundukan tanah biasa, ditutupi lumut dan rerumputan.
Mobilnya
melaju, menembus kabut tipis yang kini berwarna putih bersih. Kabut itu
perlahan menipis, dan Handoko melihat jalanan hutan yang familiar di depannya.
Pohon-pohon penanda, seperti pohon beringin kembar dan pohon randu besar, kini
terlihat jelas di tempatnya. Jalanan itu kembali menjadi jalanan yang ia kenal.
Handoko
terus mengemudi, tak menoleh ke belakang. Ia tahu, ia sudah berhasil keluar
dari "Kampung Pocong". Jantungnya masih berdebar kencang, tubuhnya
lelah, namun ada perasaan lega yang luar biasa. Ia berhasil selamat.
Namun,
saat mobilnya hampir keluar dari hutan, tepat di dekat papan nama "Selamat
Jalan dari Hutan Rimba", ia melihat sesuatu di spion tengah. Sesosok
pocong berdiri tegak di tengah jalan, di belakang mobilnya, menatapnya
dengan tatapan kosong. Pocong itu tidak bergerak, hanya berdiri diam. Dan di
samping pocong itu, ia melihat sebuah boneka kain kecil yang usang
tergeletak di tengah jalan, seperti boneka untuk anak-anak.
Handoko
sontak menginjak rem, mobilnya berhenti mendadak. Ia menoleh ke belakang, namun
tidak ada apa-apa. Jalanan itu kosong, hanya ada pepohonan dan kabut tipis yang
mulai menghilang. Boneka itu juga sudah tidak ada. Handoko menghela napas, ia
tahu itu adalah pesan dari "mereka".
Ia
melanjutkan perjalanannya menuju pasar. Pikirannya kalut. Apa makna semua ini?
Kenapa ia dibawa ke sana? Apa yang mereka inginkan?
Setibanya
di pasar, Handoko menjajakan dagangannya seperti biasa. Namun, ia tidak bisa
berhenti memikirkan kejadian semalam. Ia merasa ada yang berbeda pada dirinya,
seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di kampung itu.
Sore
harinya, saat Handoko pulang, ia menceritakan semuanya kepada Bu Siti. Istrinya
mendengarkan dengan serius, wajahnya pucat pasi.
"Mungkin...
mungkin mereka mencoba memberitahukan sesuatu Pak," kata Bu Siti, suaranya
pelan. "Atau... mereka membutuhkan sesuatu."
Handoko
hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu. Namun, ia yakin, kejadian semalam
adalah peringatan. Ia tahu, ia telah diizinkan kembali, namun ia tidak tahu
sampai kapan 'mereka' akan membiarkannya. Ia tahu, Kampung Pocong itu akan
selalu ada di sana, menunggu jiwa-jiwa tersesat lainnya. Dan ia tidak akan
pernah melupakan teror yang ia alami.
Sejak
malam itu, Handoko tidak pernah lagi berani melewati jalan hutan sendirian di
malam hari. Ia memutuskan untuk mengubah rutinitasnya. Ia akan berangkat lebih
awal, sebelum matahari terbenam, atau ia akan mencari teman untuk menemaninya
jika terpaksa harus lewat malam hari. Ia menjual sayurannya di pasar yang lebih
kecil di desa tetangga, meskipun keuntungannya tidak sebesar di pasar induk. Ia
tidak lagi mengejar kekayaan, yang terpenting baginya adalah keselamatan dan
ketenangan jiwa.
Meskipun
sudah tidak melewati jalan hutan itu lagi, teror itu tidak sepenuhnya hilang.
Setiap malam Jumat Kliwon, Handoko akan mendengar suara sayap mengepak yang
samar dari jauh, atau aroma melati yang dingin tiba-tiba tercium di
sekitar rumahnya. Terkadang, ia akan terbangun dari tidur karena mendengar bisikan-bisikan
lirih yang mirip dengan yang ia dengar di Kampung Pocong, seolah mereka
masih memanggilnya, mengingatkannya akan keberadaan mereka.
Ia
juga sering melihat gagak hitam bertengger di atap rumahnya, atau
terbang melintas di atas kepalanya, menatapnya dengan mata tajam, seolah mereka
adalah pengingat dari perjanjian tak terlihat. Handoko tahu, pengalaman itu
akan menghantuinya seumur hidup.
Warga
Desa Tepi sering berbisik tentang "Kampung Pocong" di dalam hutan.
Mereka bercerita tentang pengendara yang tersesat, tentang penampakan pocong,
dan tentang bau melati yang tiba-tiba muncul di jalan hutan. Namun, tidak ada
yang tahu persis di mana letak kampung itu, atau siapa penghuninya. Hanya
Handoko yang tahu kebenaran mengerikan itu. Ia telah melihatnya dengan mata
kepala sendiri.
Handoko
kini menjadi pribadi yang lebih religius, lebih sering berdoa dan bersedekah.
Ia sadar, hidup itu bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang
menjaga hati dan menjauhi hal-hal gaib. Ia telah mendapatkan pelajaran berharga
yang ia bayar mahal dengan rasa takut dan trauma yang mendalam. Ia adalah saksi
hidup dari keberadaan "Kampung Pocong", sebuah tempat di mana
jiwa-jiwa tersesat menemukan tempat peristirahatan terakhir mereka, menanti
jiwa-jiwa lain yang akan bergabung.
-- TAMAT --
Buat teman-teman yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya..
#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri

Komentar
Posting Komentar