#53 PENUMPANG TANPA KAKI

 


Penumpang Tanpa Kaki

Setiap malam adalah panggung bagi banyak kisah yang tak terucapkan di jalanan-jalanan sepi. Beberapa di antaranya hanya mitos, desas-desus yang menyebar dari mulut ke mulut, namun ada pula yang tersimpan rapat dalam ingatan mereka yang pernah mengalaminya. Ini adalah kisah tentang Bram, seorang pekerja lepas yang sering pulang larut malam, membelah kegelapan dengan motor kesayangannya. Bram adalah tipikal orang kota, logis, dan tak mudah percaya hal-hal mistis. Baginya, jalanan sepi hanyalah jalanan yang kurang penerangan, dan bisikan angin hanyalah suara alam.

Namun, di sebuah ruas jalan tertentu yang dikenal angker oleh penduduk setempat—sebuah jalur memanjang yang dikelilingi hutan karet tua, jauh dari lampu-lampu kota—Bram akan menghadapi kenyataan pahit. Ia akan belajar bahwa ada beberapa perjalanan yang tidak boleh dilakukan sendirian, dan ada beberapa penumpang yang, begitu mereka naik, tak akan pernah turun. Malam itu, kepercayaan logisnya akan diuji, dan ia akan menemukan bahwa di balik kesunyian malam, ada teror yang jauh melampaui akal sehat, menunggu untuk menumpang pulang.

Malam itu, jarum jam pada dasbor motor Bram menunjukkan pukul dua belas lebih seperempat. Udara malam yang dingin mulai menusuk kulitnya, namun rasa kantuknya terkalahkan oleh keinginan kuat untuk segera tiba di rumah dan beristirahat. Ia baru saja menyelesaikan proyek desain grafis yang membuatnya lembur hingga larut, menyisakan kelelahan yang mendalam. Bram memacu motornya dengan kecepatan sedang di jalanan yang sudah sangat sepi, hampir tanpa kendaraan lain. Hanya ada suara deru mesin motornya yang konstan, memecah keheningan yang mencekam.

Setelah melewati jembatan kecil yang menandai batas kota, jalanan yang ia lalui semakin gelap gulita. Di sisi kanan dan kiri, hanya berupa hamparan hutan karet yang rimbun, dengan pohon-pohon menjulang tinggi yang siluetnya tampak menyeramkan di bawah cahaya rembulan samar yang tertutup awan. Lampu jalan pun semakin jarang, membuat pandangannya terbatas pada sorot lampu motornya saja, seolah ia sedang menembus sebuah terowongan kegelapan.

Tiba-tiba, di tengah kegelapan yang pekat, mata Bram menangkap sebuah siluet di pinggir jalan. Semakin dekat ia melaju, siluet itu semakin jelas terlihat. Itu adalah seorang nenek-nenek tua, tampak membungkuk, dengan rambut putih panjang yang terurai acak-acak dan mengenakan kebaya lusuh berwarna gelap. Ia tampak berdiri di pinggir jalan, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, melambai-lambai, seolah meminta tumpangan.

Bram sempat ragu. Jalanan ini sangat sepi, dan pukul dua belas malam bukanlah waktu yang lazim bagi seorang nenek-nenek untuk berada di luar, apalagi sendirian di tempat yang begitu terpencil. Sebuah pikiran aneh sempat terlintas, namun rasa iba mengalahkan keraguannya. "Kasihan," pikirnya. "Mungkin tersesat atau butuh bantuan darurat."

Ia perlahan mengurangi kecepatan motornya, lalu berhenti tepat di samping nenek itu. "Mau ke mana Nek?" tanya Bram, mencoba bersikap ramah, meskipun ada sedikit kecanggungan dalam suaranya.

Nenek itu perlahan mengangkat wajahnya. Matanya terlihat cekung dan gelap, namun sorotnya tajam menusuk. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang pucat, memperlihatkan gigi-gigi yang menghitam dan ompong di beberapa bagian. "Nak... mau ke desa depan," jawab nenek itu, suaranya serak dan sangat pelan, nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin malam. "Bisa tolong Simbah diantar?"

Bram mengangguk. "Baik Nek. Mari naik." Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, mempersilakan nenek itu naik ke jok belakang motornya. Ia mendengar suara samar, seperti kain bergesekan atau semacam kain yang diseret. Ia merasa motornya sedikit merendah, seolah ada yang naik ke belakang, namun bobotnya terasa aneh, sangat ringan, seperti tidak ada orang sama sekali yang membonceng.

"Terima kasih Nak..." bisik nenek itu, suaranya kini terdengar sangat dekat, tepat di belakang telinga Bram, membuat bulu kuduknya meremang. Sebuah perasaan dingin tiba-tiba merayap di punggungnya, meskipun ia berusaha mengabaikannya. Perjalanan yang baru saja dimulai ini akan jauh lebih panjang dan mengerikan dari yang pernah ia bayangkan.

Bram kembali memacu motornya. Meskipun ia merasa ada yang duduk di belakangnya, bobotnya terasa sangat ringan, nyaris tidak ada. Ini terasa aneh, sangat tidak wajar untuk ukuran tubuh manusia, bahkan untuk seorang nenek tua sekalipun. Ia mencoba mengabaikan keanehan itu, berpikir mungkin nenek itu memang sangat kurus atau ringan karena usianya. Udara malam terasa semakin dingin, dan entah mengapa, ia merasakan bulu kuduknya meremang, sebuah firasat tak nyaman mulai menyelimuti dirinya.

Ia terus melaju, membelah kegelapan hutan karet yang semakin pekat. Suasana di sekelilingnya begitu sunyi, hanya ada suara deru motornya yang memecah keheningan absolut. Bahkan bisikan angin di antara dedaunan pohon karet yang tinggi pun terdengar seperti desahan panjang yang pilu, menciptakan suasana yang mencekam. Bram mencoba fokus pada jalan di depan, namun perasaannya semakin tidak enak.

Tiba-tiba, sebuah perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan menyerang Bram. Ia merasa diawasi, sangat dekat, seolah ada sepasang mata yang tak pernah lepas darinya. Hawa dingin yang menyertainya bukan lagi dinginnya udara malam biasa, melainkan dingin yang menusuk tulang, dingin yang lebih dalam dan menusuk, seolah ada bongkahan es tak kasat mata di belakangnya. Rasa penasaran bercampur sedikit ketakutan mulai merayap di benaknya. Dengan hati-hati, ia mencoba melihat nenek itu dari spion kiri motornya.

Dan di sana, di dalam pantulan spion yang sedikit buram, ia melihatnya. Sosok nenek-nenek itu duduk tegak di jok belakangnya, persis seperti saat ia menaiki motor. Wajahnya pucat, bahkan tampak kebiruan, rambut putihnya terurai acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Namun, ada yang salah. Sesuatu yang sangat, sangat salah.

Bram membelalakkan mata, jantungnya berdegup kencang nyaris meledak di dalam dadanya. Ia melihat dengan sangat jelas. Nenek itu tidak memiliki kaki. Tubuhnya melayang beberapa sentimeter di atas jok motor, tanpa menapak pada pijakan kaki, dan kain kebayanya yang lusuh menjuntai hingga menutupi ruang kosong di bawahnya. Kakinya... tidak ada. Hanya kain kebaya yang terjuntai hampa di bawah lututnya.

Sebuah seringai tipis terukir di bibir pucat nenek itu, dan matanya yang cekung, yang kini tampak memancarkan sorot merah samar, menatap langsung ke arah spion, bertemu pandang dengan mata Bram. Senyuman itu bukan senyuman ramah, melainkan senyuman gelap yang penuh makna.

"Sudah lihat Nak?" bisik suara serak itu, kini terdengar sangat jelas dan berat, seolah diucapkan tepat di belakang telinga Bram, menembus helmnya. Kata-kata itu bergaung di benaknya, membuat seluruh tubuhnya merinding hebat. Kengerian yang tak terlukiskan kini menjadi kenyataan yang mengerikan, duduk tepat di belakangnya.

Darah Bram seolah berhenti mengalir. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, seperti disambar petir, tak mampu bergerak sedikit pun. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan ia mencoba berteriak, namun suaranya hanya berupa erangan tertahan yang menyakitkan. Perutnya bergejolak, ingin muntah karena kengerian yang tak terlukiskan kini menjadi kenyataan yang mengerikan, duduk tepat di belakangnya. Logikanya hancur berkeping-keping, digantikan oleh ketakutan primal yang menguasai seluruh indranya.

Ia menoleh ke spion lagi, seolah ada kekuatan tak terlihat yang memaksanya. Nenek itu masih ada di sana, melayang tanpa kaki, sebuah seringai mengerikan terukir di wajahnya yang pucat. Seringai itu semakin lebar, seolah menikmati setiap tetes ketakutan yang mengalir dari tubuh Bram. Mata cekungnya memancarkan sorot merah samar, menatap tajam ke arahnya.

"Mau ke mana Nak?" bisik nenek itu lagi, suaranya kini terdengar seperti lolongan pilu yang tertahan, namun begitu jelas di telinga Bram. "Kita kan sudah di tengah jalan... Temani Simbah ya?"

Tanpa berpikir panjang, insting bertahan hidup mengambil alih kendali. Dengan seluruh kekuatannya, Bram langsung tancap gas sekuat tenaga. Motornya meraung keras, memekakkan telinga di tengah keheningan hutan, melaju kencang membelah kegelapan malam. Ia tidak peduli lagi akan kecepatan, tak peduli apakah motornya akan oleng atau menabrak. Satu-satunya tujuan adalah lari sejauh mungkin dari sosok mengerikan di belakangnya. Namun, semakin cepat ia melaju, semakin ia merasakan hawa dingin yang menusuk di punggungnya. Bobot yang tadi terasa ringan kini seolah semakin menekan, membuat motornya terasa sangat berat dan sulit dikendalikan, seolah ada beban ribuan kilogram yang menimpanya.

Bram melirik spion lagi, dan kengerian itu tak kunjung hilang. Nenek itu masih ada di sana, tak tergoyahkan oleh kecepatan motornya yang gila-gilaan. Rambut putihnya yang panjang melambai-lambai di udara, dan senyumnya... senyumnya seolah terpaku di wajahnya, mengunci pandangan Bram.

"Tidak bisa lari Nak," suara serak itu kembali terdengar, kali ini terdengar lebih dekat, lebih dalam, seolah nenek itu sedang membisikkan langsung ke telinganya, menyatu dengan suara deru angin. "Aku sudah ikut denganmu... Kamu tidak sendirian lagi..."

Bram panik. Ia merasakan jari-jari dingin dan keriput menyentuh pundaknya, sebuah sentuhan yang membuat seluruh tubuhnya merinding hebat, mengalirkan sensasi dingin hingga ke tulang. Ia tahu, ia harus melakukan sesuatu, apa pun itu. Jika tidak, ia akan menjadi bagian dari teror malam itu, mungkin menjadi penumpang berikutnya di jalanan sepi ini. Dalam keputusasaan, ia melihat secercah cahaya di kejauhan, sebuah papan petunjuk desa yang samar-samar. Ia harus mencapai sana. Ia harus mencapai tempat yang ada kehidupan, ada orang lain. Ini adalah satu-satunya kesempatannya untuk melarikan diri dari cengkeraman penumpang tanpa kaki itu.

Bram memacu motornya tanpa henti, dengan mata yang terus menatap jalan di depan, sesekali melirik spion, memastikan nenek itu masih ada di sana—dan selalu ada. Setiap kali ia melirik, sosok pucat tanpa kaki itu akan balas menatap, seringainya semakin dalam. Ia tidak tahu berapa lama ia melaju dalam kepanikan itu, setiap detik terasa seperti keabadian. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, bercampur dengan air mata ketakutan yang mengalir di pipinya, perpaduan rasa dingin dan panas yang memualkan.

Akhirnya, di tengah kegelapan yang mulai sedikit tersingkap, ia melihat secercah harapan. Di kejauhan, lampu-lampu redup mulai terlihat. Semakin dekat, cahaya itu membentuk garis-garis rumah. Ia telah tiba di gerbang desa. Meskipun sudah sangat larut, ia melihat beberapa siluet warga yang tampaknya baru saja pulang dari ronda malam, atau mungkin tengah bersiap untuk sholat Subuh. Bram tahu, ini adalah satu-satunya kesempatannya. Ia harus memanfaatkan keramaian yang samar ini.

Tepat saat motornya melewati gerbang desa, Bram langsung membanting motornya ke samping jalan. Motor itu oleng, ban belakangnya berdecit keras di aspal, lalu terjatuh ke samping dengan suara brak! yang memecah keheningan. Tanpa memedulikan luka-luka lecet yang mungkin timbul di tubuhnya akibat jatuh, ia segera melompat dari motor, menjauh sejauh mungkin dari jok belakang. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara. Dengan ketakutan yang mencekik, ia segera menoleh ke belakang, ke arah jok motor yang kini tergeletak di tanah.

Kosong.

Sosok nenek itu sudah tidak ada.

Rasa lega yang luar biasa membanjiri Bram, bercampur dengan kelelahan mental yang amat sangat. Ia memandangi jok motornya yang kosong, lalu kembali menoleh ke belakang, ke arah jalanan gelap hutan karet yang baru saja ia lewati. Tidak ada tanda-tanda kehadiran nenek itu lagi. Ia berhasil. Ia berhasil lolos dari teror itu.

"Dia... dia sudah pergi," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya parau dan gemetar.

Namun, di tengah rasa lega itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah bau yang sangat kuat tercium di udara, lebih pekat dari aroma melati yang biasa ia cium. Ini adalah bau yang jauh lebih busuk. Itu adalah bau tanah basah dan bunga melati yang sangat layu, membusuk, seperti aroma yang keluar dari sebuah makam yang baru digali. Bau itu bukan berasal dari hutan karet. Bau itu... berasal dari motornya.

Dengan tangan gemetar, Bram mendekati motornya yang tergeletak. Lampu motornya masih menyala, memberikan penerangan samar di sekelilingnya. Ia melihat ke jok belakang, tepat di tempat nenek itu duduk. Di sana, di permukaan jok motor yang berwarna hitam, terlihat bekas noda gelap yang samar, seperti jejak lumpur kering yang telah mengering. Dan yang lebih mengerikan, di bawah jok, di bagian pijakan kaki penumpang, ada gumpalan tanah kering yang berceceran, seolah-olah ada yang menjatuhkannya dari kaki yang baru saja menapak dari dalam tanah.

Bram menelan ludah, air liurnya terasa pahit. "Jadi... dia benar-benar ada," bisiknya, tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Bukan mimpi... bukan halusinasi."

Ia tahu, nenek itu benar-benar ada. Dan ia telah meninggalkan sesuatu sebagai bukti perjalanannya, sebuah jejak nyata yang tak bisa disangkal lagi. Sebuah bukti yang akan menghantuinya, selamanya.

Bram tidak pernah lagi melewati jalanan hutan karet itu di malam hari. Ia bahkan memutuskan untuk mencari pekerjaan baru yang tidak mengharuskannya pulang larut. Pengalaman itu telah mengubahnya sepenuhnya. Ia yang dulu skeptis, kini menjadi sangat percaya pada hal-hal gaib.

Motor kesayangannya, yang menjadi saksi bisu kengerian malam itu, akhirnya ia jual. Setiap kali ia melihat motor itu, bayangan nenek tanpa kaki di spion akan melintas di benaknya. Ia tidak sanggup lagi mengendarainya.

Namun, yang paling menghantuinya adalah aroma melati. Sesekali, terutama saat hujan atau di tempat-tempat yang lembap, ia akan mencium samar aroma melati layu, dan seketika bulu kuduknya meremang. Itu adalah pengingat abadi akan penumpang tak kasat mata yang pernah ia bawa.

Ia sering bermimpi buruk. Dalam mimpinya, ia kembali memboncengi nenek itu, melaju di jalanan gelap, dan nenek itu akan berbisik, "Kita belum sampai Nak... jalan kita masih panjang..."

Bram belajar bahwa ada beberapa tumpangan yang seharusnya tidak pernah kita berikan. Karena terkadang, mereka yang menumpang bukanlah orang hidup, dan tumpangan itu bisa berlanjut, selamanya. Kisahnya menjadi bisikan di antara teman-temannya yang percaya, sebuah peringatan agar tidak sembarangan memberi tumpangan di jalanan sepi, terutama di tengah malam. Karena di antara kegelapan, terkadang ada yang menunggu, bukan untuk tumpangan biasa, melainkan untuk sebuah perjalanan terakhir.

-- TAMAT -- 

Buat teman-teman pembaca yang mau membawakan cerita ini di channel youtubenya, kami kenakan fee Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per cerita. Bisa dibayarkan melalui link ini: teer.id/hororpsikologis. Terima kasih.. Sukses selalu channelnya.. Buat teman teman lainnya yang mau ikut mensupport dipersilahkan juga.. 😁🙏

#ceritahoror #ceritahorror #ceritaseram #ceritaserem #ceritamistis #ceritamisteri #kisahhoror #kisahhorror #kisahseram #kisahserem #kisahmistis #kisahmisteri #hororindonesia #horrorindonesia #seramindonesia #seremindonesia #mistisindonesia #misteriindonesia #pengalamanhoror #pengalamanhorror #pengalamanseram #pengalamanserem #pengalamanmistis #pengalamanmisteri #perjalananhoror #perjalananhorror #perjalananseram #perjalananserem #perjalananmistis #perjalananmisteri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#31 PERJALANAN MALAM NAIK BUS HANTU 👀

#39 RONDA MALAM YANG HOROR 👀

#70 CERITA HOROR SUNDEL BOLONG